BISNIS

Industri Boikot Kontrak Gas Baru

PGN telah menyiapkan kontrak jual beli gas baru per 1 April 2010.

ddd
Jum'at, 19 Maret 2010, 13:38 Hadi Suprapto, Elly Setyo Rini
Pipa gas
Pipa gas (AP Photo/Sergei Chuzavkov)

VIVAnews - Industri pengguna gas memilih menunda untuk meneken kontrak gas baru yang telah disiapkan oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk. Kontrak pembelian gas terakhir akan selesai pada akhir bulan ini, sehingga PGN telah menyiapkan kontrak baru per 1 April 2010.

Dalam kontrak baru tersebut, menurut Direktur Jenderal Industri Agro dan Kimia Kementerian Perindustrian Benny Wachyudi, PGN memangkas pasokan gas bagi industri sebanyak 20 persen. Selain itu juga disertakan persyaratan deposit (pembayaran di muka) selama dua bulan dan kenaikan tarif surcharge menjadi 300 persen.

PGN meminta industri untuk meneken kontrak baru tersebut selambatnya 22 Maret 2010, untuk berlaku dua tahun ke depan. "Kami minta penandatanganan kontrak baru dipending dulu, menunggu hasil rapat koordinasi di kantor Menko Perekonomian malam ini," kata Benny usai rapat dengan asosiasi industri pengguna gas dan PGN di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Jumat, 19 Maret 2010.

Dalam rapat tersebut, hadir puluhan asosiasi industri seperti Asosiasi Industri Keramik Indonesia (ASAKI), Gabungan Pengusaha Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI), Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), dan asosiasi industri pengguna gas lain semisal baja, sarung tangan karet, dan pupuk.

Benny menjelaskan, saat ini, pemerintah di bawah koordinasi Menko Perekonomian Hatta Rajasa tengah maraton melakukan rapat koordinasi untuk mencari jalan keluar atas krisis gas yang terjadi di PGN. "Masalah ini sudah ditangani secara serius oleh pemerintah. Saya minta industri jangan gelisah karena pasokan untuk industri aman," kata dia.

Optimisme muncul di kalangan industri. Ketua Asosiasi Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Achmad Wijaya menilai, pemerintah sudah menunjukkan keseriusan membela industri lokal, guna menggenjot pertumbuhan ekonomi melalui sektor riil.

"PGN sudah ada sinyal akan mendukung industri dalam negeri, dengan adanya dukungan pemerintah. Sudah ada komitmen untuk meniadakan pemangkasan," kata Achmad.

Dia berharap, keputusan pemerintah malam ini, akan memaksa PGN untuk memperpanjang kontrak bagi industri pengguna gas, dengan klausul seperti halnya dalam kontrak lama, tanpa tambahan biaya deposit dan naiknya tarif surcharge. "Kami sudah mendesak agar surcharge dan deposit ditiadakan," ujarnya.

Meski tak secara khusus membahas harga gas, Achmad menilai, dengan adanya krisis gas yang terjadi tidak akan membuat PGN menaikkan harga gas dalam kontrak. "Harga gas tidak akan dinaikkan, tetap 5 dollar per MMBTU," kata dia.

Direktur Industri Kimia Hilir Ditjen Industri Agro dan Industri Kemenperin Tony Tanduk menjelaskan, kebutuhan gas bagi industri mencapai 370 juta kaki kubik per hari.

Meski PGN sudah berkomitmen tidak akan memangkas pasokan gas, menurutnya, BUMN distributor gas tersebut tidak bisa memberikan jaminan pasokan gas bagi industri bisa tercukupi. Untuk itulah, semua pihak menunggu sikap pemerintah untuk menyelesaikan persoalan krisis gas, malam ini.

hadi.suprapto@vivanews.com



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com