BISNIS

Melongok Konservasi Alam di Gunung Halimun

Sejak tahun 2008 sudah ditanam 153.662 pohon di Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Kamis, 1 Juli 2010
Oleh : Freddy Wally
Palawijaya Tumpang Sari di Gunung Halimun

VIVAnews - Lelaki paruh baya itu sedang mengisap rokoknya dalam-dalam pada Rabu sore (29/6) saat sejumlah wartawan yang datang dari Jakarta sedang berkunjung ke lokasi konservasi alam di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Jawa Barat yang belakangan sedang digenjot program reboisasi  besar-besaran akibat penebangan liar selama beberapa tahun terakhir. Lelaki itu bernama Maman dan usianya sudah 52 tahun. Selama puluhan tahun hidupnya tidak jauh dari TNGHS.

Sore itu selepas hujan turun membasahi bumi, kondisi tanah di sekitar TNGH memang cukup berlumpur, aliran sungai kecil yang melintasi perbukitan tempat konservasi mengalirkan aliran tanah berlumpur warna kecokelatan. "Air sungai yang cokelat menandakan kalau hutan di atas gunung ini sudah gundul, sehingga tercampur dengan tanah saat turun", pungkas Warsono Usep sebagai Koordinator CSR dari pabrik AQUA Mekarsari yang mendampingi kami.

"Hutan ini sudah gundul sejak beberapa tahun lalu, demi program penghijauan akhirnya kami dibantu oleh Danone Aqua dan Ponpes Al-Amin dengan Kelompok Tani Hejo Daun menanam kembali pohon Puspa dan pohon Sengon serta beberapa tanaman palawijaya seperti jagung, tomat, kacang panjang serta beberapa tanaman lain dengan sistem tumpang sari demi menyelamatkan hutan dari bahaya  lingkungan", jelas Maman yang tinggal di Kampung Jogjogan, Kecamatan Cidahu-Sukabumi.

Maman sendiri mengaku hasil dari panen jagung yang sudah dilakukannya beberapa waktu lalu cukup untuk menutupi kebutuhan hidup yang semakin sulit belakangan ini. "Lumayan kemarin waktu panen  saya dapat sekitar 1 ton jagung, satu kilogram jagung dihargai sebesar Rp1.500", katanya.

Tercatat sejak dua tahun lalu, Danone Aqua sudah menjadi mitra para petani di kawasan terlindung TNGHS dimana telah menyalurkan sebanyak 60.000 tanaman Puspa, 70.000 tanaman Sengon/Suren, serta 20.000 pohon Jabon yang tersebar di 4 lokasi seperti Desa Girijaya, Tangkil, Babakan Pari serta Cidahu.

"Dengan pola tumpang sari seperti ini, para petani selain bisa merawat pohon Sengon atau pohon Puspa yang menjadi sarang burung Elang Jawa atau burung terlindung lainnya, mendapatkan juga keuntungan ekonomis dari mengelola kebun organik yang hasilnya bisa dijual atau membantu kehidupan sehari-hari", jelas Warsono. "Ini dengan catatan bahwa pohon Sengon serta pohon Puspa tidak boleh ditebang sampai kurun waktu ditentukan demi penghijauan alami TNGHS", tegas Warsono.

"Dalam sistem tumpang sari ini kami yang menyediakan bibit tanaman serta juga komposnya, hasilnya digunakan untuk masyarakat sekitar sini, kami juga sengaja tidak menyarankan penggunaan pupuk pestisida untuk menjaga kandungan air agar tidak terkontaminasi dengan sumber mata air", tambah warsono lagi.

Bersama dengan Kelompok Tani Hejo Daun Al-Amin yang telah terjalin sejak awal 2009, Danone Aqua juga telah bekerjasama membuat Rumah Bibit (Pembibitan Paranet) sebagai proses untuk menyiapkan stok bibit pohon dengan cara pembesaran bibit yang masih kecil.

"Sejak awal kami di Ponpes Al-Amin sudah memikirkan bagaimana menggunakan sekaligus tetap menjaga kelestarian hutan rakyat ini, salah satunya adalah dengan mensosialisasikan penanaman Pohon Sengon sebagai upaya untuk mengganti hutan gundul menjadi hutan yang hijau. Pertimbangan kami memilih Pohon Sengon karena usia penanamannya relatif lebih singkat daripada menanam Pohon Mahoni yang bisa mencapai puluhan tahun", ujar KH. Abdul Basith, Pimpinan Ponpes Al-Amin Sukabumi.

Pohon Sengon sendiri, menurut Buya, demikian panggilan dari Pimpinan Ponpes KH.Abdul Basith setelah berusia 5 tahun bisa dikomersialkan sebagai komoditas ekonomi untuk dijual ke pabrik pembuatan kertas. "Konsepnya tebang pilih lalu kita tanam lagi sehingga hutan tidak menjadi gundul", ujar Buya.

"Pemberdayaan ekonomi di hutan rakyat ini memang telah direncanakan dengan matang oleh kami di Ponpes Al-Amin bersama Danone Aqua dengan sosialisasi kepada petani secara berkesinambungan, hasilnya sendiri murni untuk dinikmati para petani agar bisa memenuhi kebutuhan ekonomi sekaligus melestarikan hutan untuk anak-cucu", imbuh Buya lagi.

Taman Nasional Gunung Halimun dari catatan yang ada dalam situs resminya merupakan habitat dari beberapa satwa mamalia langka yang keberadaannya kian memprihatinkan, seperti Owa Jawa(Hylobates moloch), Kancil (Tragulus javanicus javanicus), Surili (Presbytis comata comata), Lutung Budeng (Trachypithecus auratus auratus), Kijang (Muntiacus muntjak muntjak), Macan tutul (Panthera pardus melas), dan Anjing hutan (Cuon alpinus javanicus).

Dengan luas mencapai 40.000 hektar di atas ketinggian sekitar 500 – 1.929 meter dpl (dari atas permukaan laut), TNGHS adalah paru-paru Jawa Barat yang menyokong kehidupan sekitarnya. Perlindungan untuk kelestarian Taman Nasional ini sudah dimulai lewat program CSR (Corporate Social Responsible) yang dijalankan oleh Aqua Danone lewat payung Aqua Lestari dengan kelompok tani setempat.

Tercatat jumlah pohon yang sudah ditanam lewat program CSR Danone Aqua ini sejak tahun 2008 adalah sebanyak 153.662 pohon. Ditargetkan sampai kuartal terakhir tahun 2010 ini akan ada penambahan 50.000 pohon Sengon untuk ditanam di wilayah konservasi alam TNGHS.

TERKAIT
    TERPOPULER