BISNIS

Apa Kelebihan Saham Borneo Lumbung Energi?

Saat ini, perseroan merupakan satu-satunya perusahaan yang memproduksi jenis coking coal.
Selasa, 26 Oktober 2010
Oleh : Antique, Purborini
Tambang batu bara

VIVAnews - Lagi-lagi perusahaan penghasil batu bara berencana mencatatkan sahamnya di Bursa  Efek Indonesia. PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk berencana melepas 20 persen atau setara dengan 3,3317 miliar lembar saham kepada publik.

Borneo menargetkan dana hasil penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) sebesar Rp3,2-4 triliun.

Dari dana sebesar itu rencananya sekitar 50 persen akan digunakan untuk membayar utang perseroan setara dengan Rp1,9 triliun, 35 persen untuk belanja modal (capex), dan sisanya diperuntukkan sebagai modal kerja Borneo Lumbung Energi.

Perseroan merupakan produsen dan pengekspor batu bara jenis hard coking coal. Coking Coal biasa disebut batu bara metalurgi merupakan jenis batu bara yang dapat digunakan untuk memproduksi kokas sebagai reduktor dalam produksi besi dan baja.

Coking coal dipergunakan untuk memproduksi metallurgical coke yang merupakan bahan mentah untuk produksi pig iron dalam blast furnaces.

Sekretaris Korporasi Borneo Lumbung Energi Geroad P A Jusuf menuturkan, jenis batu bara ini biasa digunakan untuk membuat baja. Perseroan saat ini telah menandatangani kontrak dengan perusahaan China dan Taiwan.

"Kontrak baru kita ini untuk satu juta ton," ujar Direktur Pemasaran BORN Kenneth Raymond Alan di Jakarta.

Geroad mengakui, saat ini, perseroan merupakan satu-satunya perusahaan yang memproduksi jenis batu bara tersebut. "Bahkan, Krakatau Steel saja baru akan memproduksi setelah mendapat bisikan dari Posco (Pohang Steel and Iron Company)," ujar dia.

Kenneth menambahkan, perseroan akan menyuplai kebutuhan batu bara kepada perusahaan patungan Krakatau Steel dan Posco mulai 2013.

BORN memulai produksi awal september 2008 dan melakukan kegiatan komersialisasi pada September 2009. Desember 2009, Perseroan mencapai kapasitas produksi sebesar 2,4 juta ton per tahun.

Sampai September 2010, perseroan baru membukukan 1,4 juta ton. Cadangan batu bara perseroan saat ini mencapai 69,2 juta ton dan sumber daya sebesar 378,8 juta ton.

Adapun penjualan yang dibukukan sampai semester pertama tahun ini sebesar US$191,5 juta per ton. Aset BOrneo sendiri sampai Juni 2010 tercatat Rp5 triliun, sedangkan pendapatan Rp1 triliun dan Ebitda Rp0,4 trililun. Tahun depan (2011), perseroan berencana meningkatkan produksi 3,6 juta ton.

Nah, siapa peminat saham Borneo?
Analis PT Ekokapital Sekuritas Cece Ridwan menuturkan, investor asing akan menyerap saham Borneo Lumbung. "Sekarang batu bara lagi uptrend (meningkat). Investor asing patinya berminat untuk IPO saham ini," kata dia. Cece optimis, saham perseroan akan terserap.

Sedangkan analis PT Asjaya Indosurya Securities Reza Proyambada mengakui, pihaknya belum dapat memberikan forecast mengenai kinerja perseroan ke depan. "Perusahaan ini baru, tidak ada historis untuk dua tahun kebelakang," kata dia.

Dia menambahkan, pendapatan perseroan yang masih rendah menjadi pertimbangannya. Pendapatan perseroan per 30 Juni 2010 sebesar Rp1 triliun.

Reza mengatakan bahwa investor hanya akan mengambil momen IPO saham Borneo Lumbung Energi. "Harga sahamnya kayak Berau, hanya sebentar lalu turun," ujarnya.

Ia membandingkan saham ini dengan PT Indo  Tambangraya Megah Tbk. "Kalau lima besar saham stuck, apalagi dengan ini," kata Reza.

TERKAIT
TERPOPULER