BISNIS

Bencana Nuklir Pukul Petani Jepang

Fukushima memiliki lahan pertanian terbesar keempat yang menghasilkan sayuran dan buah.

ddd
Selasa, 22 Maret 2011, 12:23 Hadi Suprapto
Tsunami hantam Jepang
Tsunami hantam Jepang (AP Photo/Keichi Nakane)

VIVAnews - Larangan penjualan hasil pertanian dan peternakan di Jepang, menjadi pukulan berat bagi sebagian besar masyarakat di timur laut Jepang.

Selain menyebabkan kerusakan di wilayah itu, gempa 9,0 skala Richter dan tsunami pada 11 Maret telah merusakkan beberapa reaktor di pembangkit nuklir Fukushima Daiichi. Kerusakan ini menyebabkan pelepasan sejumlah bahan radioaktif ke atmosfer.

Fukushima, di timur laut Tokyo, memiliki jumlah lahan pertanian terbesar keempat di Jepang yang menghasilkan buah-buahan, sayuran, dan beras. Sedangkan Ibaraki, di Fukushima selatan, merupakan daerah penghasil buah-buahan, sayuran, dan daging babi terbesar ketiga di Jepang.

Akibat ruapan radioaktif ke atmosfer, pemerintah Jepang melarang penjualan susu mentah dari Prefektur Fukushima dan bayam dari Prefektur Ibaraki. Selain itu, pemerintah juga melarang penjualan bayam dan susu dari Prefektur Tochigi Gunma.

Kementerian Kesehatan Jepang, seperti dikutip CNN, Selasa 22 Maret 2011, melaporkan bahwa tingkat yodium radioaktif dalam susu dari empat lokasi di Fukushima mencapai 20 persen di atas batas aman. Pengujian di satu lokasi juga menemukan tingkat cesium sekitar 5 persen di atas batas.

Di Ibaraki, pusat utama produksi sayuran, juga menemukan tingkat yodium dalam bayam berkisar 5 persen di atas batas aman. Di tujuh lokasi, tingkat cesium terus naik menjadi di atas 4 persen di atas batas.

Senin kemarin, pihak berwenang di desa Iitake mendesak warga menghindari minum air keran, karena terindikasi tercemar zat radioaktif  tiga kali di atas ambang batas yang bisa diterima tubuh. Air hasil uji di Iitake berisi 965 becquerels per kilogram. Jauh di atas ambang batas 300 becquerels. Becquerel adalah unit satuan radioaktif sistem internasional.

Sekretaris Kabinet Jepang Yukio Edano menekankan bahwa ia percaya tingkat radiasi dalam makanan tidak menimbulkan risiko kesehatan langsung. Zat-zat ini hanya berbahaya jika dikonsumsi seumur hidup dan berulang kali.

Meski demikian, Phil Knall, penduduk Tokyo mengaku khawatir atas banyaknya ancaman dari radioaktif ini. "Kami yakin, semuanya pasti merasakan kekhawatiran yang sama dengan saya," katanya. (umi)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com