BISNIS

Ekspor Melonjak, Defisit RI-China Mengecil?

Surplus perdagangan RI meningkat 57% dibanding tahun lalu. Kebangkitan industri nasional?
Selasa, 2 Agustus 2011
Oleh : Syahid Latif, Harwanto Bimo Pratomo
Kegiatan angkutan peti kemas di pelabuhan

VIVAnews - DI tengah lesunya ekonomi dunia akibat krisis utang negara-negara Eropa, Indonesia selama enam bulan pertama 2011 mampu membukukan surplus perdagangan sebesar US$15,05 miliar. Artinya, kinerja ekspor Indonesia dinilai lebih besar dibandingkan impor.

Angka itu relatif tinggi mengingat surplus selama semester I-2011 tersebut meningkat lebih dari separuh, atau 57 persen dibandingkan periode sama tahun lalu yang hanya mencapai US$9,58 miliar.

"Kita (Indonesia) pemain yang perlu dicatat oleh dunia," tegas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan dalam keterangan pers di kantor pusat BPS, Jakarta, Senin, 1 Agustus 2011.

Rusman mengatakan, pencapaian positif perdagangan Indonesia selama enam bulan terakhir, bukan tak mungkin mendorong ekspor selama tahun 2011 hingga mencapai US$200 miliar. Angka itu juga telah menjadi target Kementerian Perdagangan RI.

Namun, Rusman mengingatkan, pencapaian target ekspor itu hanya bisa dilakukan jika perekonomian dunia tak dihajar turbulensi hingga akhir tahun.

Data BPS terbaru itu menyebutkan nilai ekspor Indonesia Januari-Juni 2011 mencapai US$98,64 miliar, atau meningkat 36,02 persen dibanding periode sama tahun 2010. Dari perolehan itu, ekspor sektor non-migas berkontribusi sebesar US$79,06 miliar, atau lebih tinggi dibandingkan sektor migas yang hanya menyumbang US$19,58 miliar
 
Khusus pada Juni 2011, peningkatan ekspor non-migas terbesar berasal dari bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$267,6 juta. Sedangkan penurunan terbesar terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$164,8 juta.

Di sisi impor, Indonesia tercatat memasukkan barang-barang luar negeri senilai US$83,59 miliar. Pada kegiatan impor, kontribusi dari sektor non-Migas mencapai US$64,35 miliar. Sedangkan sektor Migas sebesar US$19,24 miliar.

Hal melegakan dari perdagangan Indonesia selama semester I-2011 adalah kian tingginya pemasukan dari barang bahan baku yaitu sebesar 75,23 persen. Impor lain adalah barang modal sebesar 17,18 persen, dan barang konsumsi sebesar 7,59 persen.

Defisit mengecil

Perlu dicatat juga adalah defisit perdagangan Indonesia dan China kini kian mengecil. Hal itu akibat laju ekspor produk Indonesia berlari lebih kencang dibandingkan impor.

Seperti diketahui, ada kecemasan serbuan barang-barang asal Negeri Tirai Bambu ini setelah Indonesia dan beberapa negara ASEAN meneken kesepakatan perjanjian perdagangan bebas, atau ASEAN-China Free Trade Agreement (ACFTA).

Selama Januari-Juni 2011, nilai ekspor produk Indonesia ke China tercatat US$8,953 miliar. Penjualan barang produk Indonesia ke China itu naik sebesar US$122,5 juta, dibandingkan periode sama tahun lalu yaitu US$6,05 miliar.

Di sisi impor, Indonesia masih mendatangkan produk dengan nilai US$12,05 miliar. Angka ini meningkat US$3,01 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar US$9,04 miliar.

"Ekspor produk Indonesia ke China lebih cepat daripada China ke Indonesia," kata Rusman. "Kalau tetap seperti ini, sampai akhir tahun (neraca perdagangan Indonesia-China) bukan defisit lagi tetapi surplus."

Jika melihat realisasi kinerja 6 bulan pertama tahun 2010 dan 2011 di atas, ekspor Indonesia ke China meningkat sebesar US$2,9 miliar. Sedangkan peningkatan impor mengalami kenaikan US$3,01 miliar. "Defisit perdagangan dengan China semakin mengecil, untuk bulan Juni sebesar US$365 juta dengan rata-rata bulanan US$600 juta," kata Rusman.

Dua sisi

Meski begitu, kinerja positif perdagangan Indonesia harus tetap dilihat secara kritis. Pertanyaan menarik dilontarkan pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani. "Apakah kita lebih banyak impor barang jadi, atau lebih banyak ekspor bahan baku," ujarnya.

Aviliani menilai, peningkatan kinerja perdagangan Indonesia bisa jadi lebih disebabkan faktor penguatan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing, khususnya dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan nilai tukar itu bisa menjadi pemicu importir memasukkan barang-barang dari luar negeri.

Artinya, penguatan rupiah itu belum tentu memberikan dampak positif bagi seluruh sendi perekonomian nasional. Langkah importir yang cenderung memasukan barang jadi, ujar Aviliani, malah akan menambah daftar persoalan jangka menengah panjang bagi Indonesia. "Kalau kualitas impor lebih banyak barang jadi, dampak jangka panjang harus sudah diantisipasi," katanya.

Penguatan nilai tukar rupiah diikuti neraca perdagangan membaik seharusnya diikuti dengan langkah membuat skema infrastruktur lebih baik. Dengan importasi barang-barang lebih murah, ditambah lagi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang kian kuat, diharapkan pembangunan infrastruktur bisa dipercepat.

Menanggapi defisit neraca perdagangan Indonesia dan China yang diperkirakan bakal terus mengecil, Aviliani menilai, ada fakta di lapangan barang asal China masih banyak beredar di Indonesia."Jadi barang-barang dari China masih menjadi ancaman karena mereka mempunyai daya saing dan kebijakan menahan nilai tukar renmimbi," kata dia.

Indonesia, lanjutnya, seharusnya mulai berpikir meningkatkan daya saing produknya di pasar luar negeri. Selain itu, perlu dirancang sebuah program yang diharapkan bisa menggali potensi usia produktif yang belum termanfaatkan.

Memasuki enam bulan terakhir 2011, Aviliani berpesan agar pemerintah lebih banyak berinovasi dengan membuka pasar baru di luar negeri, terutama di Asia dan Asia Tenggara. Selama ini, pangsa ekspor Indonesia hanya terbatas pada negara-negara yang telah lama menjadi mitra dagang.

Aviliani juga menyarankan Indonesia mendiversifikasi produk ekspornya, dengan lebih banyak memproduksi barang jadi dibandingkan menjual bahan mentah.  Untuk hal itu, pemerintah harus merancang skim insentif yang bisa menggairahkan kembali sektor industri di tanah air.(np)

TERKAIT
TERPOPULER