BISNIS

Industri Olahan Rotan Makin Terpuruk

Banyaknya ekspor rotan mentah membuat perusahaan-perusahaan pengolahan rotan bertumbangan.
Rabu, 9 November 2011
Oleh : Hadi Suprapto, Sukirno
Perajin rotan

VIVAnews - Industri pengolah rotan mengalami keterpurukan dalam beberapa tahun terakhir seiring adanya kebijakan pembukaan ekspor rotan dari hutan Indonesia.

Badan Pusat Statistik mencatat telah terjadi penurunan kinerja ekspor industri mebel dan kerajinan rotan yang cukup signifikan sejak diberlakukan buka tutup ekspor rotan sejak 2005.

Pada 2006, kinerja ekspor sektor mencapai US$344 juta, namun pada 2007 turun menjadi US$319 juta. Pada 2008, ekspor kerajinan itu turun lagi menjadi US$239 juta, dan kemudian pada 2009 serta 2010 juga melemah masing-masing menjadi US$168 juta dan US$138 juta. Tak cuma itu, pada semester pertama tahun ini, ekspor industri pengolahan hanya tinggal US$57 juta.

Yayasan Rotan Indonesia membeberkan data bahwa rata-rata sebelum 2005, jumlah produksi industri kerajinan dari bahan rotan ini mencapai 81,9 ribu ton rotan. Namun, pada 2006 jumlah produksi menurun menjadi 76,2 ribu ton.

Gambaran sederhana, di sentra kerajinan rotan Cirebon, rata-rata ekspor mebel rotan sebelum 2005 mencapai 3.000 kontainer per bulan. Sementara itu, pada 2009 maksimal hanya 1.000 kontainer. Bahkan, saat musim paceklik hanya 600 kontainer.

Data statistik Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) menyebutkan bahwa nilai ekspor produk keranjang rotan dan sejenisnya turun dari US$27,04 juta pada 2007 menjadi US$19,22 juta pada 2008. Selanjutnya, nilai ekspor kursi dan perabot rumah tangga rotan juga merosot dari US$155,16 juta pada 2007 menjadi US$106,06 juta pada 2008.

Ini mengakibatkan perusahaan-perusahaan pengolahan rotan bertumbangan. Pada 2007 masih terdapat 614 unit usaha pengolahan rotan, tetapi pada 2008 tinggal 234 unit usaha.

Data Asmindo memperlihatkan, sebanyak 250 ribu petani rotan di Sulawesi Tengah beralih profesi menjadi penambang emas atau petani kakao karena harga rotan yang tidak menjanjikan lagi. Dulu harga rotan jenis jermasin Rp3.500 per kilogram, namun kini tak laku. Jenis rotan batang dalam lima tahun terakhir tidak pernah naik dari Rp1.500 per kilogram. (art)

TERKAIT
TERPOPULER