BISNIS

Lifting Minyak di APBN Diusulkan Dihapus

Menteri ESDM Jero Wacik sudah menyampaikan wacana itu dalam sidang kabinet.

ddd
Selasa, 17 Januari 2012, 16:10 Antique, Sukirno
Menteri ESDM, Jero Wacik
Menteri ESDM, Jero Wacik (VIVAnews/ Muhamad Solihin)

VIVAnews - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik  mengusulkan agar mengubah salah satu asumsi makro yang ditetapkan pemerintah yaitu produk minyak siap jual (lifting).

Usulan itu disampaikan setelah melihat kondisi saat ini, pencapaian lifting minyak Indonesia sudah tidak relevan.

Jero Wacik mengaku, wacana itu sudah disampaikan dalam sidang kabinet beberapa waktu yang lalu. Lifting minyak itu, diusulkan menjadi lifting energi yaitu akumulasi eksplorasi energi yang diproduksi pemerintah.

"Saya pertama kali paparan sebagai Menteri ESDM di sidang kabinet dua minggu lalu. Yang inspiring, Menteri Keuangan menjelaskan selalu menyebut lifting minyak. Lifting minyak kita tahun lalu 903 ribu barel, targetnya saya di tanya bisa nggak jadi satu juta? Saya bilang tidak. Maka saya usulkan mari kita jadikan lifting energi, jangan minyak," kata Jero Wacik, dalam Inspiring Talk, Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) bertema 'Kebijakan Pemanfaatan Gas Bumi Terkait Pengendalian Subsidi BBM', di Hotel Le Meridien, Jakarta, Selasa 17 Januari 2012.

Menurutnya, hal itu didasari oleh produksi minyak yang diperkirakan akan terus menurun ke depannya. Sedangkan potensi energi-energi lainnya seperti gas dan batu bara belum dapat dimaksimalkan

"Dari angka yang ada, sumur yang ada cenderung turun. Setiap tahun 13 persen, dengan teknologi baru tetap turun juga tiga persen per tahun. Jadi, 903 ribu barel akan turun terus, tidak mungkin kan jadi satu juta," kata Jero Wacik

Selain itu, lanjut Jero, untuk meningkatkan produksi minyak, Indonesia sudah tidak didukung oleh iklim eksplorasi minyak yang baik. Misalnya, birokrasi yang berbelit serta banyaknya retribusi yang harus dikeluarkan.

"Untuk menaikkan, iklim eksplorasi kita kurang baik. Orang eksplorasi dengan risiko kok sudah dipajak di awal. Ini menurut pengamat nggak baik, maka kompetitifnya nggak baik.  Susah naiknya," ungkap dia.

Selanjutnya, kata Jero Wacik, yang terpenting adalah saat ini era keemasan minyak di Indonesia sudah berakhir. Jadi, sudah saatnya pemerintah mengembangkan energi lain yang memiliki potensi besar di Indonesia.

"Dulu, kita produsen minyak, anggota OPEC, Sekjen OPEC, kita petinggi OPEC. Pada waktu itu benar. Lifting minyak memang menjadi asumsi. Sekarang, kita sudah bukan jadi anggota OPEC, kita jadi net importir. Kok, masih bicara lifting minyak. Ini yang di angkat di sidang kabinet," tuturnya.

"Selain itu, saya bilang ke Presiden, sekali-kali kita pikir outside the box. Saya katakan, orang yang outside the box masuk ke dalam box. Saya orang luar, orang pariwisata tujuh tahun. Lalu masuk box. Mengapa minyak lifting jadi sasaran. Sementara gas naik, batu bara naik. malah angka-angka yang masuk sekarang produksi energi lain sekitar enam juta barel oil equivalen, tiga juta batu bara, 1,5-2 juta gas, satu jutanya minyak. Jadi, kita harus pindah paradigma ke lifting energi," ujarnya. (umi)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com