BISNIS

Tiga Alasan Kenapa Harga BBM (Tak) Perlu Naik

Berbagai argumen dikeluarkan untuk memperkuat pendapat, baik pro maupun kontra BBM naik.

ddd
Selasa, 27 Maret 2012, 11:19 Hadi Suprapto
Berbagai argumen dikeluarkan untuk memperkuat pendapat, baik pro maupun kontra kenaikan harga BBM.
Berbagai argumen dikeluarkan untuk memperkuat pendapat, baik pro maupun kontra kenaikan harga BBM. (VIVAnews/ Muhamad Solihin)

VIVAnews - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah memastikan akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dalam waktu dekat. Pemerintah telah mengajukan Rancangan Undang-Undang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan agar bisa menaikkan harga BBM.

Berbagai argumen dikeluarkan untuk memperkuat pendapat, baik yang pro maupun kontra atas rencana kenaikan harga BBM.

Berikut tiga alasan mengapa harga bahan bakar minyak perlu dinaikkan:

1. Minyak mentah dunia membubung
Kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu alasan mengapa pemerintah perlu menaikkan harga BBM. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah mengatakan, asumsi harga minyak dalam APBN 2012 harus disesuaikan. Pemerintah tidak mungkin lagi menetapkan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) US$90 per barel, sebab harga ICP saat ini sudah melampaui US$115 per barel.

2. Subsidi salah sasaran
Dengan harga BBM murah, justru yang mendapatkan subsidi besar adalah orang yang menggunakan mobil. Bukan penduduk yang selayaknya mendapatkan subsidi, seperti tukang ojek dan sopir Bajaj.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, langkah menaikkan harga BBM merupakan solusi pemberian subsidi yang tepat sasaran. "Jadi, ini baik, masyarakat menengah kita yang sebelumnya menikmati 70 persen (BBM bersubsidi) bisa membayar kenaikan itu," ujar Hatta.

3. Lebih baik untuk infrastruktur
Bank Dunia mengungkapkan pemerintah harus menaikkan harga bahan bakar minyak bersubsidi. Lebih baik subsidi BBM dialihkan untuk membangun infrastruktur listrik yang masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara.

Manajer Pembangunan Berkelanjutan Bank Dunia untuk Indonesia, Franz R Drees-Gross, menjelaskan, jika pemerintah terus mensubsidi bahan bakar besar-besaran, Indonesia kehilangan kesempatan membangun di sektor lain.

"Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk subsidi BBM, sebenarnya bisa digunakan untuk sesuatu yang lebih berguna," kata Franz di Jakarta, Senin 12 Maret 2012.

Sementara itu, bagi kubu yang menolak kenaikan harga BBM memiliki alasan:

1. APBN tak bakal jebol
PDI Perjuangan tak sepakat dengan rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Partai berlambang kepala banteng itu berpendapat asumsi pemerintah keliru jika menganggap APBN bakal jebol saat harga BBM tak dinaikkan.

“Subsidi BBM dari tahun ke tahun memang turun. Jadi, asumsi pemberian subsidi BBM akan membuat jebol APBN itu tak masuk akal,” ujar Sekretaris Fraksi PDIP, Bambang Wuryanto, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu 29 Februari 2012.

Sekadar informasi, pada APBN 2005, subsidi BBM mencapai Rp95,6 triliun. Sementara itu, pada APBN 2012 membengkak menjadi Rp123,6 triliun. Bahkan dalam APBN-P 2012 ditetapkan Rp137 triliun.

2. Subsidi sudah tepat sasaran
Anggapan pemerintah bahwa subsidi BBM selama ini tidak tepat sasaran, menurut PDIP juga tidak benar. “Subsidi BBM sudah benar. Jadi, jangan pakai alasan salah sasaran untuk mengurangi subsidi,” tegas Bambang.

Politisi PDIP, Daryatmo Mardiyanto, mengatakan, sebagian besar subsidi premium dikonsumsi oleh masyarakat kelas menengah dan bawah. Catatan PDIP, dari total premium yang dikonsumsi oleh rumah tangga, 64 persennya dikonsumsi oleh sepeda motor, sedangkan yang untuk mobil hanya 36 persen.

“Mengingat sebagian besar pemilik sepeda motor adalah masyarakat kelas menengah ke bawah, maka berarti selama ini bagian terbesar subsidi premium sebanyak 64 persen dikonsumsi oleh kelas menengah dan bawah, dan itu bukan kelompok kaya,” kata Daryatmo.

3. Pindah kantong

Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera, Anis Matta, mengatakan, jika pemerintah menaikkan harga BBM lalu membuat kompensasi untuk rakyat miskin, itu artinya hanya pindah kantong kanan ke kantong kiri. "Lebih bagus tidak menaikkan dan tidak perlu ada kompensasi," kata Anis, di gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, Rabu 21 Maret 2012. (art)



© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
moondisco
28/03/2012
buat apa sih demo2 tolak kenaikan harga BBM?bego amat pemikirannya ya orang2 jaman skrg apa lagi mahasiswa,,daripada demo2 ga ada gunanya hanya merengek2 kepada pemerintah,,mending kalian pikirin bagaimana caranya menambah penghasilan kalian!!!
Balas   • Laporkan
bimasunang
28/03/2012
Rakyat Indonesia seharusnya senang dan bisa menikmati keuntungan dari kenaikan harga minyak dunia, karena Negara kita punya banyak minyak.
Balas   • Laporkan
nuswa | 28/03/2012 | Laporkan
tp sayang naiknya harga minyak dunia tidak mensejahterahterakan rakyat, soalnya kita ngimpor minyak om. Bnyaknya minyak di Indonesia bukan berarti orang Indonesia sndiri yg mengolahnya...
simba_yk
27/03/2012
itu analisanyasalah, kalau dihitung memang benar banyakan motor daripada mobil, tapi satu mobil setara dengan 10 motor. Jadi konsumsi BBM itumobil minum 10x lipat drpd motor. Tanyakan Professor seluruh dunia,mrk pasti tertawa kalau subsidi BBM sdh TEPAT!
Balas   • Laporkan
mickymouse
27/03/2012
INDONESIA TANAH AIRKU, TANAH TUMPAH DARAHKU. DISANALAH AKU BERDIRI....
Balas   • Laporkan
massul
27/03/2012
Ini pasti ada yang salah urus. Dan bagaimana bisa, yang menikmati BBM bersubsidi dinggap lebih banyak orang kaya, padahal mereka bayar pajak lebih besar. Apa yang ngurus negara sebetulnya gak becus berhitung.
Balas   • Laporkan
purple.luck
27/03/2012
Ini maunya apa sih??? Iya-iya, nggak-nggak? Bikin bingung masyarakat aja! Tolong jangan politisasi kepentingan hajat hidup orang banyak!!!
Balas   • Laporkan
error_bandit
27/03/2012
pdip = partai plinplan.. penunggang seluruh aksi kekacauan di Indonesia, marii kita seluruh rakyat Indonesia bersatu menumpas antek2 pdip, karena pdip lebih hina & berbahaya daripada PKI!!
Balas   • Laporkan
viollet
27/03/2012
indonesia...
Balas   • Laporkan
igur
27/03/2012
negeri yang di limpahi dengan minyak bumi dan minyak sawit, tapi keteteran mengurus minyak sendiri.
Balas   • Laporkan
lgen.abraham
27/03/2012
"Turun kan APBN 2012 dengan sisa penurunan tersebut di alokasikan ke subsidi BBM, sehingga otomatis APBD di Kabupaten / Kota turut turun, sehingga peluang Pejabat didaerah utk membangun yg non-prioritas ditiadakan (penurunan angka korupsi pejabat)"
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com