Emas Kembali Bakal Mencetak Rekor Baru?
Jika tidak tahun ini, rekor harga emas bisa tercapai pada pertengahan tahun 2013.
Harga emas diprediksi bakal kembali mencoba rekor baru (REUTERS/Krishnendu Halder)
VIVAnews - Setelah tahun lalu diprediksi bakal menembus angka US$2.000 per ounce, harga emas kembali diramalkan bakal mencetak rekor baru. Jika tak akhir tahun ini, rekor baru harga logam mulia itu bakal tercipta pada pertengahan tahun 2013.
Hal itu diungkapkan konsultan Global Head of Metal Analytics, Philip Klapwijk, dalam Laporan Tahunan Thomson Reuters GFMS seperti dikutip the Telegraph, Kamis, 11 April 2012. "Kami bisa melihat dengan mudah rekor harga emas pada September lalu bisa terlampaui," kata dia.
Dalam pengamatan GFMS, pencapaian rekor harga emas kali dikarenakan meningkatnya kekhawatiran kondisi ekonomi negara dengan skala ekonomi terbesar keempat di dunia, Spanyol. Kondisi ini membuat arus investasi pada komoditas logam mulai sebagai safe haven semakin meningkat.
Diakui Philip, walau pencapaian rekor baru pada tahun ini masih bisa menjadi perdebatan, hal itu setidaknya bisa terwujud pada pertengahan tahun depan.
GFMS memperkirakan permintaan komoditas emas diprediksi meningkat seiring kekhawatiran situasi di Eropa yang semakin intensif. Karenanya, logam mulia bakal memperoleh keuntungan dari prospek kebijakan quantitative easing yang kemungkinan dijalankan pemerintah AS.
Kebijakan itu membuat investor berupaya melindungi kekayaan mereka terhadap dampak inflasi dari aksi bank sentral.
Dalam jangka pendek, GMFS mengakui, penurunan krisis Eropa dan berkurangnya harapan masyarakat terhadap program QE III dari AS bakal mendorong harga emas bergerak melemah. Bahkan emas diprediksi bakal berada di bawah US$1.550 per ounce dalam beberapa bulan mendatang.
GMFS juga menangkap sinyal yang jelas bahwa upaya pemulihan ekonomi AS yang semakin goyah akan membuat bank sentral, The Fed, harus kembali mengeluarkan dana stimulus. Di sisi lain, negara-negara kekuatan ekonomi baru seperti China, India, dan Brasil terus ditekan untuk terus memperlunak kebijakan moneter mereka.
"Konsekuensi dari seluruh kondisi moneter ini adalah ketakutan bangkitnya kembali inflasi dan itu menjadi semakin besar jika harga minyak mentah semakin melonjak," kata Philip.
-
Belasan RS Mundur dari Program KJS Andalan Jokowi. Ada Apa?
-
Ternyata Madrid Sudah Siapkan Bus Parade Copa del Rey
-
Drama 10 Gol di Laga Perpisahan Ferguson
-
Ahok: Ada Pengusaha Kuasai 26 Ribu Meter Lahan di Waduk Pluit
-
Rekapitulasi Lengkap Premier League Musim Ini
-
Aksi Maudy Koesnaedi di Karpet Merah Festival Film Dunia
- Info Momentum
- 40% Manusia Terinfeksi "Parasit Pengontrol Pikiran"
- Misteri Harta Karun 8 Ton Suku Maya
- Misteri Orang Sumeria di Planet Nibiru
- Kebetulan yang Menakjubkan dalam Kematian
- FOTO: Paola Cazzola, Pembalap Wanita Cantik Pertama di Dunia
- Sum Kuning, Kasus Pemerkosaan Misterius di Indonesia
- FOTO: Kucing Bersayap dari China



