BISNIS

Direktur XL Axiata, Ongki Kurniawan

"Di Perusahaan IT, Anak Muda Lebih Kreatif"

Banyak bisnis baru yang membutuhkan orang-orang muda untuk menjalankan perusahaan.

ddd
Senin, 23 April 2012, 13:01 Arinto Tri Wibowo, Amal Nur Ngazis, Sukirno
Director/Chief Service Management Officer XL Axiata-Ongki Kurniawan	.
Director/Chief Service Management Officer XL Axiata-Ongki Kurniawan . (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)

VIVAnews - Menjadi direktur termuda di PT XL Axiata Tbk memang tidak pernah terpikir di benak Ongki Kurniawan. Namun, bekal pengalaman sebagai analis kredit di sebuah bank asing, membuatnya mampu berpikir analitis.

Dukungan orang tua sejak kecil juga ikut memberikan pengalaman berharga baginya. Alumni Institut Teknologi Bandung dan meraih gelar MBA di Universitas of Berkeley itu kini dipercaya sebagai Direktur/Chief Service Management Officer XL Axiata.

Kepada wartawan VIVAnews, Sukirno dan Amal Nur Ngazis, Bapak dengan dua orang anak itu pun menceritakan perjalanan kariernya sebagai direktur termuda di XL hingga pandangannya tentang industri telekomunikasi ke depan.

Berikut petikan wawancara yang berlangsung di ruang kerjanya, Menara XL, belum lama ini:

Sebagai direktur termuda, bisa diceritakan proses perjalanan karier Anda di XL?
Sebenarnya saya kenal XL sejak 2007 awal. Waktu itu masih sebagai konsultan dan menangani proyek-proyek XL. Nah, di situ kenal XL. Dari proyek-proyek itu ada yang akhirnya menghasilkan tarif XL Rp1. Sesudah itu, masih ada satu atau dua proyek lainnya.

Karena banyak menangani proyek XL, akhirnya ditawari Pak Hasnul Suhaimi (direktur utama XL Axiata) untuk bergabung dengan XL. Akhirnya saya bergabung pada Maret 2009.

Apa tugas awal Anda saat itu?
Saya masuk sebagai head of strategy XL dan ditugaskan untuk mendesain serta mengomunikasikan ke perusahaan, ke semua level. Tugasnya adalah memastikan bahwa XL harus selalu bersaing dengan kompetitor. Kami memilih data service dan waktu itu belum mau masuk ke dongle. Mengapa kami lebih masuk ke handphone, itu karena faktor strategi. Saya ditugaskan untuk menganalisis. Waktu itu, tim saya masih sekitar 20 orang.

Tahun lalu, pada Juni, saya ditugaskan untuk memimpin grup baru, yang dinamakan Service Management.

Apa tantangan di grup baru ini?
Grup baru ini tantangannya benar-benar bertolak belakang dengan yang ada di bidang strategi. Ini benar-benar pekerjaan operasional, pegang jaringan, pegang customer service. Biasanya saya cuma menggunakan power point, tapi
sekarang saya mesti siap 24 jam jika ada gangguan jaringan. Memastikan tidak ada masalah. Benar-benar sesuatu yang pindah dari high level menjadi lebih operasional. Jumlah timnya juga bertambah menjadi 1.400 orang.

Saya shock dikasih tanggung jawab sebesar itu, tapi saya jalani. Setelah beberapa bulan diangkat menjadi direktur. Kebetulan di direktorat ini menjadi direktur baru di bidang Service Management. Tadinya direktorat ini nggak ada.

Awalnya, orang-orang yang ada di direktorat saya tersebar di direktorat lain. Akhirnya dikumpulkan dan dibentuk satu direktorat baru yang namanya Service Management. XL juga menambah direktur dari 5 orang menjadi 7 orang.

Memang, itu sejalan dengan arah XL ke depan. Fokus XL pada layanan, dan direktorat saya bertugas agar semua layanan sampai ke costumer dengan baik.

Program Rp1 bisa mengubah perang tarif, padahal kompetitor lain belum pikirkan itu?

Waktu itu saya belum di XL. Saya masih di konsultan, keputusan akhir tetap berada di tangan manajemen XL. Tapi, kami sebagai konsultan melihat bahwa penting bagi XL untuk mencermati itu. Jadi, harus pindah dari low volume high price satu menit Rp1.000, ke high volume low price satu menit cuma Rp100. Kami turunkan 10 kalinya.

Sebagai konsultan, saya belajar dari negara lain. Jadi, waktu negara lain menerapkan itu, apa yang mereka hadapi. Di Thailand tidak disertai dengan investasi, sehingga jaringannya konjes, industrinya malah berantakan. Kami lalu beri masukan. Kalau di India, mereka melakukan hal yang sama dan juga investasi di jaringannya yang besar.

Ketika mereka menurunkan tarif, kan orang jadi banyak yang pakai. Akhirnya, semua bisa terakomodasi dengan jaringan yang ada. Jadi, berdasarkan itu, XL bukan hanya menurunkan tarif, tetapi juga berinvestasi besar-besaran di jaringan.

Waktu itu, untuk memastikan bahwa begitu tarifnya turun, orang pakai, kapasitasnya cukup. Nah, saat itu, kompetitor kebetulan jaringannya sudah konjes. Untuk bisa merespons apa yang kami lakukan, mereka butuh waktu dan investasi untuk mengejar apa yang kami sudah lakukan. Sejak 2010-2011, begitu kompetitor sudah melakukan perbaikan dan bisa mengejar, kami lihat
harga bukan lagi sesuatu yang bisa menjadi plans of differentiation.

Selain harga, apa pertimbangan costumer memilih suatu operator?
Dengan data service, akhir-akhir ini mereka butuh operator yang bisa memberikan layanan yang baik. Meski sebenarnya di data service cukup kompleks. Kadang-kadang kalau memasukkan SIM card ke handphone tidak bisa langsung pakai kan? Harus ada setting terlebih dahulu, APN (Access
Point Network
), dan sebagainya. Itu yang kami kejar dan bagaimana cara memperbaiki experience pelanggan.

Setiap perubahan tersebut dibutuhkan investasi berapa besar dan untuk apa saja?
Waktu 2007, XL memang investasi banyak di kapasitas. Tapi, waktu itu kapasitasnya di jaringan 2G. Karena waktu itu zamannya 2G masih belum banyak di data service. Masih voice dan SMS, itu saja kami investasi sekitar US$2-2,5 miliar.

Itu memang dibutuhkan untuk bisa mengakomodasi kenaikan jumlah trafik yang naik 8 kali lipat dan terus meningkat saat itu. Sekarang kami di posisi, di mana orang mulai banyak menggunakan data service. Jika pakai jaringan 2G akhirnya akan lambat. Mereka akhirnya nggak puas dengan layanannya. Kami lalu melihat, jika customer pakai jaringan 3G, selain mereka puas, dari data service biayanya juga jauh lebih rendah. Jika menggunakan jaringan 3G, biaya per megabyte jauh lebih murah dibanding 2G. 

Kalau bisa pindahkan dari jaringan 2G ke 3G, jaringan 2G-nya bisa dipakai hanya untuk voice dan SMS. Sementara itu, 3G-nya bisa dipakai untuk data service. Bukan hanya pengalaman pelanggan dan kecepatannya yang lebih baik  dan bagus, tapi juga secara cost juga lebih rendah. Makanya tahun lalu kami investasi besar-besaran di jaringan 3G ini.

Tahun ini saja, dari sekitar Rp7-8 triliun capex (capital expenditure) yang kami keluarkan, lebih dari 60 persen akan digunakan untuk investasi di data service terutama di jaringan 3G.

Segmen beralih dari voice ke data, bagaimana dengan target pelanggan dan pendapatan XL pada 2012?
Untuk target tahun ini sekitar 50 juta pelanggan. Saya gambarkan begini. Kami pakai yang namanya semacam corong. Kami punya sekitar 46 juta pelanggan saat ini. Hanya 26-27 juta yang memakai data service. Artinya, orang yang
punya handphone bisa akses internet. Dari 26-27 juta ini, sebanyak 7 juta pelanggan secara rata-rata menggunakan data service setiap hari.

Sedangkan yang menggunakan dengan lumayan heboh sekitar 1,8-2 juta pelanggan. Artinya, masih besar sekali potensi untuk meningkatkan penggunaan dari data service. Misalnya digenjot dari yang 7 juta ini naik jadi 26 juta itu sudah luar biasa.

Tanpa menambah pelanggan pun, dengan berfokus pada pelanggan yang ada, tapi membuat mereka aware dengan menggunakan data service dan meningkatkan angka 7 juta itu sudah bagus. Target kami sekitar 12-15 juta pelanggan.

Tentunya direktorat saya dituntut untuk membuat experience pelanggan jadi lebih bagus. Kalau masalahnya mereka nggak punya handphone dengan jaringan 3G, kami bisa siasati dengan mencari handphone bundling.

Untuk target pendapatan?
Mungkin lebih gampang kami ambil kontribusi data service selama dua tahun terakhir. Pada 2010 masih 10 persen, tahun lalu menjadi 15 persen. Tahun ini, kami harapkan bisa 20 persen lebih. Mungkin masih kecil. Dari voice sekarang 50 persen, sisanya SMS, dan konten. Walaupun konten dengan adanya masalah sedot pulsa kemarin jadi turun.

Bicara soal karier Anda, siapa orang yang paling berpengaruh?
Itu sudah pasti Bapak saya. Bapak saya yang paling berpengaruh. Beliau sebenarnya nggak menentukan saya harus ke mana. Tapi, saya belajar banyak dari Beliau.

Contohnya begini, waktu itu kami nggak banyak yang punya komputer. Tapi, waktu itu, Beliau sudah punya visi bahwa komputer penting buat saya. Jadi, waktu itu kelas 6 SD, saya dibelikan komputer.

Belakangan saya baru tahu, gaji Bapak sebagai pegawai BI nggak begitu besar. Tapi, buat Beliau, komputer itu besar sekali manfaatnya. Saya benar-benar merasa dengan dibelikan komputer bisa mengutak-ngatik sendiri dan membantu masa depan saya, sehingga bisa berpikir analitis.

Selain itu, dari kecil saya sudah dikursuskan Bahasa Inggris, dan itu membantu studi serta kariernya. Saya melihat Beliau orangnya visioner.

Sebagai direktur termuda, pendapat Anda tentang "Young on Top"?
Kalau saya lihat, sebenarnya sekarang orang lebih jauh terbuka. Ini dari sisi melihat all about performance. So far, terus terang, senangnya di XL sangat terbuka. Anak buah saya banyak yang jauh lebih tua. Saya nggak pernah merasa bahwa nggak tahu apa-apa, culture-nya sudah oke.

Bagi XL, ini bukan hal yang baru. Mungkin sekarang saya yang paling muda. Tapi, kalau saya melihat, waktu itu ada juga direktur yang jauh lebih muda dari saya saat diangkat. Jadi, sebenarnya di XL bukan hal yang baru.

Cuma yang membuat saya makin realistis sebenarnya memang proses itu butuh waktu. Nggak bisa dipungkiri bahwa butuh pengalaman. Banyak kegagalan untuk sampai ke proses kematangan.

Saya nggak yakin yang muda itu sudah punya pengalaman. Saya khawatir, orang-orang yang terlalu muda dan ditempatkan di posisi tinggi jauh lebih cepat, nanti keputusan-keputusan yang dibuat tidak didasari dengan kematangan dari seorang pemimpin yang sudah banyak makan asam garam.

Jadi, pemimpin itu berbeda-beda di eranya masing-masing. Misalnya, ada yang membutuhkan pemimpin yang berpengalaman. Tapi, di sisi lain memang ada bisnis-bisnis baru yang membutuhkan orang-orang muda untuk menjalankan perusahaan. Karena, anak muda itu lebih kreatif, lebih tune-in kalau di perusahaan teknologi.

Ongki lahir di Padang, Sumatera Barat, lebih dari 39 tahun lalu. Kedua orang tuanya berasal dari Sumatera Barat. Sejak umur 4 tahun sudah merantau ke Jakarta, karena kebetulan ayahnya bekerja di Bank Indonesia.

Menjalani pendidikan SD, SMP, SMA di Jakarta, Ongki lalu melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) selama empat tahun di Jurusan Teknik Elektro. Setelah lulus pada 1995, Ongki bekerja di Bank Universal, Jakarta selama hampir satu tahun di bagian
management trainee.

Dia kemudian pindah ke Citibank dari 1996 hingga 2001 di bagian analisis kredit. Di sini, Ongki belajar banyak, karena bertemu dengan orang-orang hebat.

Ongki mengaku senang menjadi analis kredit dan mengamati bisnis perbankan. Apalagi, waktu itu kebetulan sedang zamannya krisis ekonomi 1998.

Pada 2001, pria dengan dua anak itu lalu melanjutkan studi di University of Berkeley, untuk meraih gelar MBA. Selepas memperoleh gelar MBA, Ongki mendapat tawaran dari konsultan dari lembaga multinasional. Akhirnya dia
bergabung di lembaga itu dari 2003 hingga 2009, sebelum berlabuh di XL.(sj)


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
bidadaricute
28/04/2012
percuma aja sehebat apapun toh kerja untuk telkom malaysia
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru