Masa Tinggal Turis Drop, Wisata Bali Terancam
Masa tinggal wisatawan telah anjlok hampir 3 kali lipat dibandingkan 10 tahun yang lalu.
Masa tinggal wisatawan di Bali terus menurun selama 10 tahun terakhir (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)
VIVAnews - Industri pariwisata di Tanah Air tengah di ambang krisis. Indikatornya, lama kunjungan wisatawan ke Bali sebagai kota andalan wisata Indonesia, terus mengalami penurunan sejak 10 tahun terakhir.
Dari catatan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali, lama kunjungan wisatawan pada satu dekade yang lalu bisa mencapai 10-14 hari. Kini, para pelancong umumnya hanya menghabiskan waktu liburan selama 3 hari saja.
”Karena hanya tiga hari, wisatawan akhirnya tidak bisa berkunjung ke desa-desa. Mereka hanya menyasar tempat-tempat yang memang sudah popular. Akhirnya, kemajuan dari sektor wisata ini tidak dapat dinikmati oleh masyarakat di desa,” ujar Ketua GIPI Bali, Ida Bagus Ngurah Wijaya dalam Seminar Nasional Perda Tata Ruang Bali Dalam Perspektif Hubungan Pusat dan Daerah, di Kampus Universitas Udayana Denpasar, Selasa 24 April 2012.
Wijaya menilai, minimnya lama tinggal pelancong di Bali membuat keindahan alam yang dinikmati tak bisa utuh. Kondisi ini sangat disayangkan mengingat Bali menyuguhkan ciri khas yang tak bisa ditemukan wisatawan di belahan bumi lainnya.
”Dengan suguhan pariwisata budaya, Bali sesungguhnya paling diminati wisatawan dunia. Bayangkan saja, tiap hari mereka disuguhi dengan atraksi budaya di Bali," katanya.
Tak hanya berkurangnya masa tinggal wisatawan, industri pariwisata Bali juga menghadapi masalah makin minimnya anggaran belanja para pelancong.
Jika sebelumnya, wisatawan bisa menghabiskan dana hingga US$200 atau Rp1,8 juta per hari, kini hanya tersisa separuhnya saja.
Kendati pertumbuhan wisata makin mengkhawatirkan, GIPI Bali enggan menetapkan kondisi yang terjadi saat ini sebagai alam bagi kelangsungan bisnis industri pariwisata di tanah air.
Wijaya hanya berharap agar pemerintah mengubah strategi promosi wisatanya dengan lebih menonjolkan aspek kuantitas dibandingkan kualitas. Maksudnya, pemerintah harus bisa meningkatkan lamanya tinggal wisatawan serta mendorong konsumsi para pelancong.
Apakah kita lebih utamakan jumlah kunjungan, misalnya 3,5 juta orang, 10 juta orang atau bahkan 20 juta orang per tahun? Atau mungkin kita cukup dengan 1 juta orang per tahun, namun masa tinggalnya lama dan pembelanjaannya juga tinggi,” tegas Wijaya.
Namun, diakui Wijaya, penonjolan faktor kuantitas juga bisa berdampak negatif bagi industri pariwisata nasional. Sebab, keuntungan yang diterima dari membludaknya kunjungan wisatawan kurang bisa dinikmati pengelola wisata dari luar Bali.
- Info Momentum
- Mengungkap Dua Pesan Crop Formation dari Alien di Inggris
- Kisah Wanita Bersandal Mawar Merah dari Mesir
- Rahasia Illuminati dalam Uang Rp.10ribu Indonesia
- Gilles de Rais, Legenda Pembunuh Berantai Awal Modern
- Misteri: Kasus Kematian Peragawati Dietje di Era 80an
- VIDEO: Kemunculan Cahaya Misterius Di Atas Kubah Masjidil Aqsa
- FOTO: Mariachi, Offroader Wanita Dengan Skill Super



