Korea Masuk, Krakatau Tunggu Surat Dahlan
Perusahaan asal Korea berencana untuk berinvestasi sekitar US$4,5-5 miliar.
Krakatau Steel (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)
VIVAnews - PT Krakatau Steel Tbk saat ini masih menunggu surat resmi dari pemerintah terkait pemberian izin kepada perusahaan petrokimia asal Korea Selatan, Honam Petrochemical Corp. Rencananya, perusahaan tersebut akan menggunakan lahan perseroan untuk membangun pabrik pengolahan di Indonesia.
Direktur Utama Krakatau Steel, Fazwar Bujang, mengungkapkan, Kementerian Badan Usaha Milik Negara telah memberikan izin kepada Honam untuk menggunakan lahan milik Krakatau. "Namun, surat resminya belum kami terima. Kami masih menunggu keterangan tertulis dari pemegang saham mayoritas (pemerintah)," kata Fazwar di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu 2 Mei 2012.
Untuk itu, menurut dia, manajemen belum bisa bernegosiasi dengan anak usaha Lotte Group itu terkait nilai kontrak pemakaian lahan. Padahal, perusahaan asal Korea itu berencana untuk berinvestasi sekitar US$4,5-5 miliar untuk membangun pabriknya di atas lahan milik Krakatau Steel.
"Jika surat izin resmi pemanfaatan lahan kami telah dikeluarkan dan diterima, kami akan melakukan negosiasi nilai kontrak pemanfaatan lahan dengan Honam," tambahnya.
Seperti diketahui, pembangunan pusat produksi Honam tersebut direncanakan selesai tiga tahun mendatang, setelah dimulainya proses pembangunan pada kuartal I-2013. Sebelumnya, pemerintah akan melakukan perundingan dengan manajemen Honam Petrochemical Corp, untuk mencari solusi penyediaan lahan pabrik. Hal ini dilakukan, agar pihak Honam mau menanamkan investasi di Indonesia.
Laba turun
Sementara itu, laba Krakatau Steel pada kuartal I-2012 turun drastis hingga 58,9 persen menjadi Rp58,3 miliar. Penurunan itu karena kenaikan beban usaha perseroan sebesar 17,6 persen, dan beban bunga 59,3 persen, sehingga dibukukan rugi kurs sebesar Rp26,7 miliar.
"Harga bahan baku iron ore pellet naik sebesar 11,3 persen menjadi US$240,1 per ton. Hal ini turut berkontribusi terhadap kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 37,3 persen (year to year)," ujarnya.
Menurut Fazwar, pada tiga bulan pertama 2012, Krakatau Steel juga mencatat kenaikan pendapatan bersih sebesar 35 persen yang dikontribusikan oleh peningkatan volume penjualan produk baja sebesar 34 persen. Namun, karena tingginya beban pokok, kenaikan tersebut tidak mampu mengimbangi pendapatan dan berdampak pada penurunan margin kotor serta margin usaha perseroan.
"Melihat volume penjualan kuartal I yang kenaikannya lebih 30 persen dari kuartal yang sama tahu lalu, kami melihat prospek kuartal-kuartal ke depannya masih akan baik," tambahnya.
Berdasarkan pengalaman perseroan, menurut Fazwar, penurunan volume penjualan baru akan terjadi ketika memasuki low season, yang setiap tahunnya terjadi pada bulan-bulan hari raya.
"Barangkali akan ada perubahan saat low season nanti pas hari raya, Juli-Agustus. Namun, belajar dari pengalaman selama 10 tahun setelah hari raya, harga dan volume akan meningkat, baik permintaan dan suplai," ujarnya. (art)
- Info Momentum
- Mengungkap Dua Pesan Crop Formation dari Alien di Inggris
- Kisah Wanita Bersandal Mawar Merah dari Mesir
- Rahasia Illuminati dalam Uang Rp.10ribu Indonesia
- Gilles de Rais, Legenda Pembunuh Berantai Awal Modern
- Misteri: Kasus Kematian Peragawati Dietje di Era 80an
- VIDEO: Kemunculan Cahaya Misterius Di Atas Kubah Masjidil Aqsa
- FOTO: Mariachi, Offroader Wanita Dengan Skill Super



