BISNIS

BBM Bersubsidi Dibatasi, Kuota Masih Jebol

Kuota BBM diperkirakan tetap jebol jika pembatasan kapasitas mesin (cc) tidak dilakukan.

ddd
Jum'at, 4 Mei 2012, 17:00 Antique, Iwan Kurniawan, R. Jihad Akbar
Pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi.
Pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. (VIVAnews/ Muhamad Solihin)

VIVAnews - Pemerintah akan mengeluarkan lima kebijakan untuk membatasi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Namun, kuota BBM diperkirakan tetap jebol jika pembatasan kapasitas mesin (cc) tidak dilakukan.

Dirjen Migas Kementerian Energi Sumber Daya Mineral, Evita Legowo menyatakan, jika pemerintah menerapkan Peraturan Presiden Nomor 15 tahun 2012 Tentang Harga jual Eceran dan Konsumen Pengguna Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu dapat menekan laju konsumsi BBM bersubsidi dari 47 juta kiloliter menjadi 44 juta kiloliter.

"47 juta kiloliter menjadi 44 juta kiloliter kalau kita menerapkan Perpres secara konsekuen, di mana isinya tidak terkait dengan mobil dinas," kata Evita di Jakarta, Jumat 4 Mei 2012.

Menurut Evita, jika pemerintah menerapkan pembatasan BBM bersubsidi untuk mobil dinas, pertambangan dan, perkebunan, konsumsi BBM bersubsidi dapat ditekan hingga 43,5 juta kiloliter.

"43,5 juta kiloliter tanpa cc, tetapi dapat ditekan menjadi 42 juta kiloliter kalau ada cc," katanya.

Pemerintah, lanjutnya, akan menggunakan berbagai cara untuk menekan konsumsi BBM bersubsidi. Pemerintah juga akan menggunakan program BBM free day, di mana satu hari tanpa BBM bersubsidi.

"Kemudian pengurangan outlet BBM bersubsidi dan pengetatan pengawasan dari BPH migas, sehingga bisa berkurang lagi," ujarnya.

Sementara itu, jebolnya anggaran alokasi subsidi BBM bersubsidi pada tahun ini sudah dipastikan akan terjadi. Bahkan, pemerintah berhitung jebolnya subsidi tersebut dapat mencapai Rp96,8 triliun.

Menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, hal itu karena alokasi anggaran subsidi dalam APBN-P 2012 dirancang dengan memperhitungkan adanya kenaikan BBM bersubsidi sebesar Rp1.500 per liternya pada tahun ini.

"Sekarang dengan asumsi tidak ada kenaikan harga BBM, maka jauh lebih besar dari itu anggarannya," ujarnya di tempat terpisah.

Hatta memaparkan, angka Rp98 triliun tersebut dengan perhitungan minyak mintah Indonesia (ICP) ada di kisaran US$119 per barel rata-rata tahunan dan realisasi BBM bersubsidi sekitar 42 juta kilo liter.

Tentunya, jika ditotal alokasi subsidi pada tahun ini bisa mencapai Rp234,2 triliun. Jumlah tersebut melebihi anggaran subsidi yang dianggarkan dalam APBN-P 2012 sebesar Rp137,4 triliun. Hal ini juga terjadi dalam subsidi listrik yang naik Rp10 triliun dari Rp65 triliun menjadi Rp75 triliun.

Namun, dengan segala upaya penghematan yang dilakukan pemerintah berdasarkan lima instruksi presiden, dirinya meyakini bahwa defisit masih dapat deredam sebesar 2,23 persen sesuai dengan apa yang telah ditetapkan. "Defisit harus di bawah tiga persen," tambanya.

Terkait dengan kenaikan harga BBM bersubsidi, Hatta menegaskan bahwa hingga akhir tahun ini tidak akan ada kenaikan harga BBM. (eh)

 


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru