BISNIS

Indonesia Pakai Sistem Sinyal KRL yang Salah?

Peralatan sinyal kereta yang dipakai KRL sebetulnya cocok digunakan di negara subtropis.

ddd
Jum'at, 11 Mei 2012, 20:17 Syahid Latif, Alfin Tofler
KRL jurusan Bogor-Kota
KRL jurusan Bogor-Kota (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)

VIVAnews - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengungkapkan, peralatan persinyalan yang selama ini dipakai di Indonesia sebetulnya kurang cocok dengan iklim di Indonesia. Kondisi itu pula yang menyebabkan alat sinyal tersebut sering mengalami kerusakan.

"Jadi, ketika pakai di daerah tropis, alat itu tidak bisa memprediksi dan bertahan dengan jenis dan kuantitas petir yang ada di sini," ujar Vice President Sinyal, Telekomunikasi, dan Listrik PT KAI, Ira Nevasa, di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat, 11 Mei 2012.

Menurut Ira, peralatan persinyalan kereta api di Tanah Air sudah banyak yang berusia tua. Hampir 60 persen sinyal yang dipakai saat ini telah berumur lebih dari 30 tahun. Sementara itu, hanya sekitar 19 persen yang berumur kurang dari 15 tahun.

Dengan kondisi tersebut, KAI menganggap 80 persen peralatan persinyalan yang ada saat ini sudah selayaknya diganti atau diremajakan.

Data KAI juga mengungkapkan, gangguan sinyal kereta api akibat petir tercatat mencapai 6,5 persen dari seluruh total sinyal yang digunakan. Sementara itu, dari aksi vandalisme tercatat 5,9 persen.

Gangguan sinyal lainnya berasal dari berbagai hal yang kuantitasnya sedikit, tetapi jenisnya banyak seperti drainase yang buruk dan banjir.

Ira mengatakan, permasalahan gangguan sinyal akibat petir ini menjadi perhatian besar, karena alat Solid State Interlocking (SSI) yang dipakai oleh perusahaan dibuat oleh negara yang beriklim subtropis. Kondisi ini berbeda dengan Indonesia yang memiiki iklim tropis.

Dugaan manajemen KAI tersebut dibenarkan oleh ahli petir dari Institut Teknologi Bandung, Reinaldo Zorro. Menurut dia, standar internasional untuk SSI adalah standar yang dibuat untuk negara subtropis.

Zorro menjelaskan, Indonesia dianggap tak bisa menggunakan alat sinyal tersebut secara maksimal karena iklim yang berbeda. "Walaupun beli mahal, tetapi tetap tidak bisa digunakan," ujar peneliti Laboratorium Arus dan Tegangan Tinggi Jurusan Teknik Listrik ITB ini. (art)


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
larisjaya.net
02/06/2012
semoga cepat berbenah diriPT. KAI, keselamatan penumpang ada ditanganmu.... larisjaya.net
Balas   • Laporkan
pa dahlan, sebaiknya PT.KAI tidak hanya mengatasi permasalahan yang ada dengan perbaikan dan peremajaan, perlu juga dilakukan pengembangan, cari investor swasta untuk transportasi kereta api, seperti yg dilakuakan jepang..
Balas   • Laporkan
agoesmoeljadi
11/05/2012
Sudah tau begitu kenapa PT KAI /Kemenhub tidak minta bantuan atau memberdayakan LEN untuk memproduksi alat sinyal KA yg pastinya disesuaikan dg iklim tropis ?
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru