Indonesia Pakai Sistem Sinyal KRL yang Salah?
Peralatan sinyal kereta yang dipakai KRL sebetulnya cocok digunakan di negara subtropis.
KRL jurusan Bogor-Kota (VIVAnews/Ikhwan Yanuar)
VIVAnews - PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengungkapkan, peralatan persinyalan yang selama ini dipakai di Indonesia sebetulnya kurang cocok dengan iklim di Indonesia. Kondisi itu pula yang menyebabkan alat sinyal tersebut sering mengalami kerusakan.
"Jadi, ketika pakai di daerah tropis, alat itu tidak bisa memprediksi dan bertahan dengan jenis dan kuantitas petir yang ada di sini," ujar Vice President Sinyal, Telekomunikasi, dan Listrik PT KAI, Ira Nevasa, di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat, 11 Mei 2012.
Menurut Ira, peralatan persinyalan kereta api di Tanah Air sudah banyak yang berusia tua. Hampir 60 persen sinyal yang dipakai saat ini telah berumur lebih dari 30 tahun. Sementara itu, hanya sekitar 19 persen yang berumur kurang dari 15 tahun.
Dengan kondisi tersebut, KAI menganggap 80 persen peralatan persinyalan yang ada saat ini sudah selayaknya diganti atau diremajakan.
Data KAI juga mengungkapkan, gangguan sinyal kereta api akibat petir tercatat mencapai 6,5 persen dari seluruh total sinyal yang digunakan. Sementara itu, dari aksi vandalisme tercatat 5,9 persen.
Gangguan sinyal lainnya berasal dari berbagai hal yang kuantitasnya sedikit, tetapi jenisnya banyak seperti drainase yang buruk dan banjir.
Ira mengatakan, permasalahan gangguan sinyal akibat petir ini menjadi perhatian besar, karena alat Solid State Interlocking (SSI) yang dipakai oleh perusahaan dibuat oleh negara yang beriklim subtropis. Kondisi ini berbeda dengan Indonesia yang memiiki iklim tropis.
Dugaan manajemen KAI tersebut dibenarkan oleh ahli petir dari Institut Teknologi Bandung, Reinaldo Zorro. Menurut dia, standar internasional untuk SSI adalah standar yang dibuat untuk negara subtropis.
Zorro menjelaskan, Indonesia dianggap tak bisa menggunakan alat sinyal tersebut secara maksimal karena iklim yang berbeda. "Walaupun beli mahal, tetapi tetap tidak bisa digunakan," ujar peneliti Laboratorium Arus dan Tegangan Tinggi Jurusan Teknik Listrik ITB ini. (art)
- Info Momentum
- Misteri Persamaan Kasus Pembunuhan Mary Ashford dan Barbara Forrest
- Corpse Candle, Menguak Misteri Lilin Kematian
- Misteri Dimensi Pararel di Segitiga Bennington
- Kebetulan yang Menakjubkan dalam Kematian
- 5 Pasangan Ayah dan Anak Menjadi Presiden
- Join [Game] Team A vs Team B
- FOTO Kegiatan Harian Pesumo di Jepang



