BISNIS

Konversi BBM, Disparitas Harga Minimal 50 %

Mengingat, disparitas harga Pertamax dan BBG yang jauh.

ddd
Sabtu, 2 Juni 2012, 11:37 Ismoko Widjaya, Iwan Kurniawan
Converter kit Bahan Bakar Gas
Converter kit Bahan Bakar Gas (VIVAnews/ Muhamad Solihin)

VIVAnews - Program konversi Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi Bahan Bakar Gas (BBG) yang sedang digalakkan pemerintah dirasakan akan sulit selama disparitas harga BBM dengan BBG masih tipis. Minimal perbedaan harga gas 50-60 persen agar program konversi BBM ini berhasil.

"Negara lain sukses melakukan konversi BBM karena ada perbedaan harga 50-60 persen, ada delta harga yang signifikan," kata Direktur Pengusahaan Perusahaan Gas Negara (PGN), Jobi Triananda Hasjim dalam diskusi Polemik di Warung Daun, Jakarta, Sabtu 2 Juni 2012.

Harga BBG di Indonesia sebesar Rp3.100 per liter setara premium (LSP) sedangkan harga Premium sebesar Rp4.500 per liter. Jobi menjelaskan dengan disparitas harga yang tipis antara premium, masyarakat tidak mau mengorbankan kenyamanannya untuk menyediakan tabung gas di mobil.

Dengan adanya kebijakan Presiden yang melarang mobil dinas pemerintah, BUMN dan BUMD menggunakan BBM bersubsidi, diharapkan dapat menambah permintaan BBG. Mengingat, disparitas harga Pertamax dan BBG yang jauh.

"Kalau pertamax dan gas disparitasnya jauh, 1 liter pertamax bisa mendapatkan 3 liter gas. Pasti masyarakat akan mencari yang lebih murah," kata Jobi.

Namun hingga saat ini PGN fokus untuk pengembangan BBG transportasi umum khususnya gas untuk TransJakarta. "Dengan perbedaan harga tidak signifikan masyarakat tidak mau beralih," ujar dia.

Sementara itu, Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi menjelaskan, wacana soal BBG di Indonesia sudah lama yaitu sejak 1987. Tapi rencana itu kalah pesat dibandingkan program konversi BBM ke BBG yang dicanangkan Pakistan sejak 1999.

"Pakistan sejak 1999 namun konsisten dengan membangun infrastruktur dan sukses. Kita sejak 1987 namun SPBG yang akan tersedia baru 33 SPBG karena kita tidak mendorong gasifikasi dan memaksa masyarakat untuk menggunakan BBM impor dan subsidi," papar Tulus. (sj)


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru