Kisah Kedekatan Oom Liem dengan Soeharto
Kesuksesan Oom Liem, tak lepas dari kedekatan dengan penguasa Orde Baru, Soeharto.
Liem Sioe Liong (Repro buku Eddy Soetriyono)
VIVAnews - Dalam dunia bisnis, nama Sudono Salim atau Liem Sioe Liong, sudah tak asing lagi. Pendiri Grup Salim ini sudah jadi legenda. Bisnisnya di mana-mana, seluruh pelosok negeri, bahkan lintas benua.
Kesuksesan Oom Liem, begitu dia disapa, tak lepas dari kedekatan dengan penguasa Orde Baru, Soeharto. Keduanya berkenalan saat Oom Liem menjadi pemasok kebutuhan Tentara Nasional Indonesia (TNI) tahun 1950-an. Saat itu, Soeharto masih jadi Panglima Kodam Diponegoro, Jawa Tengah.
Bisnis Oom Liem semakin moncer ketika Soeharto berhasil menumbangkan Orde Lama dan naik jadi orang nomor satu di Indonesia.
Buku Soeharto The Life and Legacy of Indonesia's Second President karya Retnowati Abdulgani-Knapp, mengisahkan bagaimana hubungan keduanya dan seberapa dekat hubungan itu.
Pada tahun 1970, begitu dikisahkan buku itu, Om Liem mendirikan PT Bogasari demi meluaskan bisnis tepung terigunya. Dia menggandeng sepupu Soeharto, Sudwikatmono.
Tak berapa lama, Bogasari mendapat lisensi khusus memasarkan tepung terigu di Indonesia bagian barat. Ini merupakan wilayah-wilayah gendut dalam bisnis tepung terigu, tidak seperti Indonesia bagian timur yang permintaannya tak besar.
Dengan menguasai Jawa dan Sumatera, Bogasari bisa mengamankan perdagangan terigu hingga meraup US$400 juta per tahun.
Sebagai gantinya, begitu ditulis dalam buku yang edisi bahasa Indonesianya diterbitkan Kata Hasta Pustaka 2007 ini, Bogasari harus menyisihkan 26 persen keuntungan untuk Yayasan Harapan Kita yang dipimpin Tien Soeharto. "Sumbangan-sumbangan ini sebagai cara yang tepat untuk pemerataan kekayaan," tulis buku itu.
Selain berpartisipasi di Yayasan Harapan Kita, Oom Liem juga turut serta dalam Yayasan Damandiri. Liem yang saat itu sudah jadi orang terkaya turut menjadi pendiri dan duduk di badan pengurus. Dengan menggandeng Liem, tentu harapannya pengusaha-pengusaha lain turut bergabung.
Benar saja, setelah pertemuan pertama di Jimbaran dan Tapos, Yayasan Damandiri berhasil mengumpulkan dana Rp23 miliar. Sesudah itu bisnis Oom Liem kian mekar. Perusahaan-perusahaanya kian banyak dan bergerak di banyak sektor seperti perbankan, industri pangan, hingga otomotif.
Namun, sejak krisis moneter dan jatuhnya Soeharto dari tampuk kepemimpinan pada 1998, bisnis Oom Liem turut redup. Sejumlah perusahaan diambil pemerintah untuk membayar suntikan Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) sebesar Rp52 triliun ke Bank BCA.
Kini, di tangan anaknya, Anthony Salim, bendera Salim berkibar lagi. Sedangkan Oom Liem, sejak kerusuhan meletup pada Mei 1998, memilih menghabiskan hari tuanya di Singapura, hingga meninggal pada Minggu 10 Juni.
- Info Momentum
- Misteri Puzzle yang Menyelimuti Antartica
- Tehnik Manusia Terbang dalam Pembuatan Piramida Mesir
- Rahasia Illuminati dalam Uang Rp.10ribu Indonesia
- Orang Aceh Misterius yang Menembak Jend. Kohler pada Zaman Penjajahan
- Misteri Hilangnya 13 Aktifis Menjelang Reformasi
- FOTO dan VIDEO: Festival Olahraga Gulat Gambia
- VIDEO: Behind The Scene Baby Julius di Popular


