BISNIS

RI Ragukan Data Pelancong ke Malaysia

Masyarakat Indonesia yang hilir mudik ke Malaysia umumnya dihitung dua kali.

ddd
Kamis, 21 Juni 2012, 06:03 Syahid Latif, Sukirno
Tarian di Malaysia
Tarian di Malaysia (www.heritage.gov.my)

VIVAnews - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyangsikan catatan pemerintah Malaysia yang melaporkan jumlah kunjungan wisatawan asal Indonesia ke Negeri Jiran itu mencapai 2 juta orang, atau terbanyak kedua, selama 2011.

"Kalau dari statistiknya, 2011 itu tidak sampai dua juta, cuma sejuta sekian. Tapi, perhitungan dari Malaysia itu bikin kami sangsi," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Abdul Kadir kepada VIVAnews di Jakarta, Rabu 20 Juni 2012.

Menurut Kadir, selama ini, pemerintah Malaysia menggunakan sistem penghitungan jumlah kunjungan wisatawan yang berbeda. Sebagai contoh, masyarakat Indonesia yang hilir mudik ke Malaysia umumnya dihitung berdasarkan kedatangan mereka.

"Misalnya, dari Kepulauan Riau bolak balik ke Malaysia, ya dihitungnya dua kali," ujar dia.

Sementara itu, perhitungan yang dipakai Indonesia hanya menggunakan jumlah kedatangan dari setiap turis yang masuk sebanyak satu kali. "Jadi, pada dasarnya ada perbedaaan cara menghitung," ujar dia.

Kadir juga mengungkapkan, besarnya perhitungan jumlah wisatawan Indonesia ke Malaysia juga disebabkan pemerintah negara itu turut menghitung para pekerja asal Tanah Air yang mencari penghidupan di Negeri Jiran itu.

Padahal, menurut aturan organisasi pariwisata dunia atau UNWTO, setiap pekerja lintas negara seharusnya tidak boleh dihitung. "Di Malaysia itu dihitung bahkan bisa berkali-kali, meskipun hanya lewat," katanya.

Dari pengamatan tersebut, Kementerian Pariwisata memperkirakan besarnya masyarakat Indonesia yang berkunjung ke Malaysia, sebagian besar bukan untuk tujuan wisata. Mereka biasanya datang untuk bekerja.

"Rata-rata pekerja, tidak ada orang yang wisata. Wisatawan sangat kecil jumlahnya," kata dia.

Dibandingkan wisatawan Indonesia yang berkunjung Malaysia, pemerintah justru mengkhawatirkan pelancong Tanah Air yang berwisata ke Singapura. Alasannya, pemerintah tak bisa mencegah masyarakat yang hendak wisata belanja ke negara tersebut.

"Kalau ke Singapura, justru yang sulit dihentikan," katanya.

Sementara itu, Direktur Pengembangan dan Informasi Pasar Kemenparekraf, Budi Pakarti Bangsar, meminta agar Malaysia bertindak jujur terhadap budaya-budaya yang sebetulnya berasal dari Indonesia.

"Saya yakin, faktor kejujuran akan lebih dihargai dibandingkan dengan faktor kosmetik belaka," ujar Budi.

Dia mengaku tak terlalu khawatir dengan banyaknya budaya, yang sebetulnya berasal dari Indonesia, yang digunakan Malaysia untuk menggaet turis mancanegara. Pemerintah yakin, para turis tetap akan mencari negara asli pencipta budaya tersebut.

"Misalnya di Jakarta kan ada Taman Mini Indonesia Indah (TMII), tapi apakah orang Jakarta tidak ingin pergi ke Yogyakarta? Tidak ingin pergi ke Papua? Kan tidak. Mereka akan tetap pergi ke daerah-daerah itu," ujarnya.

Kendati demikian, pemerintah menegaskan siap bertindak tegas jika Malaysia berani mematenkan produk budaya yang sebetulnya berasal dari Indonesia. Selain melanggar etika, paten budaya juga melanggar hubungan negara bertetangga dan serumpun.

Seperti diketahui, Malaysia mengklaim jumlah wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Malaysia sepanjang 2011 mencapai 2,13 juta itu. Jumlah itu hanya berada satu tingkat di bawah posisi puncak yang dihuni Singapura. Malaysia mencatat turis asal Singapura mencapai 13,37 juta orang. (art)


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
andreas_nk
22/06/2012
Malaysia mau klaim budaya atau atraktif apapun, ga bakalan tertarik sama kamu, nanti kita bisa-bisa jadi teroris/maling. Kasihan banget negara malaysia ini, setelah ditinggal Mahathir Mohammad, lakukan hal-hal buruk saja : nebak & tindas tki.Bertobatlah.
Balas   • Laporkan
andreas_nk
22/06/2012
Berharap kpd warga bangsa Indonesia agar tidak lagi bepergian ke Malaysia (kalau ga terpaksa), krn negara Malaysia biang kerok munculnya marah bangsa Indonesia, sumber teroris spt asari dan maling budaya. Masih banyak tempat wisata di tanah air yg baik.
Balas   • Laporkan
herman.prasetyo.397
21/06/2012
Indonesia harus mematenkan segala budaya2 lainya,agr tidak sperti kasus hilangnya pulau sipadan n ligitan,timor leste...,ini adlh penglaman bwt bangsa indonesia...agr anak cucu kita tetap menikmati kekayaan indonesia..
Balas   • Laporkan
soebandrio
21/06/2012
berpikir logika saja, penduduk singapura hanya sekitar 6 juta kurang darimana bisa wisatawan dari negara itu bisa 13,37 juta orang?? kalo Indonesia wajar,penduduk 250 juta, ada 2,13 juta termasuk TKI-nya kesana, itu masuk akal. metode ngitungnya aneh ini.
Balas   • Laporkan
soebandrio | 27/06/2012 | Laporkan
tidak serta merta dianggap turis atau berwisata, makanya jumlah wisatawan di malassia itu bisa jadi cuma angka penggelembungan. mengerti tidak kamunya?
soebandrio | 27/06/2012 | Laporkan
nah itulah mbagusi, pikiran kamu mirip seperrti malassia, asal sudah lintas negara dianggap turis, belum tentu, mana tahun cuma untuk ngisi bensin, atau berkunjung kerumah neneknya. apa itu disebut turis?, sampeyan yg perlu belajar, org bolak-balik tidak
mbagusi | 21/06/2012 | Laporkan
wah sampeyan kurang sekolah gan, jumlah turis Singapura ke Malaysia bisa berkali lipat dari jumlah penduduk karena yang dihitung adalah kedatangannya, jadi 1 orang bisa dihitung 5 kali kalau dalam setahun dia 5 kali bolak-balik ke Malaysia....belajar dulu
soebandrio
21/06/2012
mau tahu kenapa jumlah orang singapura ke malaysia begitu besar? mudah, karena bensin di malaysia jauh lebih murah daripada di singapura, makanya untuk cari bbm murah mereka pergi kesana. belum lagi yang punya usaha di sana, makanya dihitung sebagai turis
Balas   • Laporkan
MALAY SIA didengerin kaya ga ada kerjaan ajah..!!
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru