BISNIS

Churchill Gugat SBY, Ini Kata Menhut

Sudah membor, sudah jual saham, tapi tanpa izin masuk kawasan hutan.

ddd
Rabu, 4 Juli 2012, 20:33 Elin Yunita Kristanti, Iwan Kurniawan
Ilustrasi pertambangan
Ilustrasi pertambangan  

VIVAnews - Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menyatakan perusahaan tambang multinasional, Churchill Mining Plc tidak pernah terdaftar dan memiliki izin untuk melakukan eksplorasi di hutan produksi di wilayah Kutai Timur.

Zulkifli menjelaskan Churchill tidak terdaftar di Kementerian Kehutanan, yang ada adalah perusahaan Ridlatama di mana 75 persen sahamnya dimiliki oleh Churchill. "Ridlatama eksplorasi di Kutai Timur terbukti tanpa izin," katanya saat ditemui di Kementerian Kehutanan, Rabu 4 Juli 2012.

Menurutnya, Ridlatama telah melakukan eksplorasi di hutan produksi. Bahkan hasil ekplorasi Ridlatama telah diumumkan dan sahamnya telah dijual kepada perusahaan pertambangan asal Inggris, Churchill. Sayangnya Ridlatama tidak pernah mengurus izin untuk masuk melakukan eksplorasi di kawasan hutan.

"Kami tidak urus izin tambang tapi izin masuk hutannya. Terbukti di kawasan hutan, sudah membor bahkan sudah diumumkan hasilnya, sudah jual saham, tapi tanpa izin masuk kawasan hutan," katanya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus berhadapan dengan Churchill Mining Plc di pengadilan arbitrase internasional, menyusul pencabutan izin usaha pertambangan oleh Bupati Kutai Timur, Kalimantan Timur. Churchill saat ini tengah menggarap proyek batu bara The East Kutai Coal Project.

Dikutip dari laman Churchill Mining, The East Kutai Coal Project merupakan proyek batu bara thermal kelas dunia dengan cadangan terbukti 961 juta ton. Studi kelayakan yang selesai pada September 2010 juga membuktikan bahwa lapangan ini memiliki cadangan yang ditaksir hingga 2,73 miliar ton.

Dengan cadangan sebanyak itu, The East Kutai Coal Project diharapkan bisa menghasilkan 30 juta ton batu bara per tahun dengan umur tambang 25 tahun. Tambang seluas 350 kilometer persegi ini mencakup empat konsesi batu bara yang saling berdekatan.

Investasi pembangunan proyek ini mencapai US$1,8 miliar dengan belanja modal awal US$1,2 miliar. Proyek ini mencakup pembangunan tempat penyimpanan tambang, conveyor, pusat pelabuhan laut, dan pembangkit listrik. (eh)


© VIVA.co.id   |   Share :  
Rating
KOMENTAR
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com
Kontak Kami | Tentang Kami | Disclaimer | Lowongan
Copyright © 2013 PT. VIVA Media Baru