BISNIS

Kemendag Dukung Upaya Tak Impor Garam, Asal..

Upaya swasembada garam dicanangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan.
Jum'at, 13 Juli 2012
Oleh : Bayu Galih, Alfin Tofler
garam

VIVAnews - Kementerian Perdagangan sepenuhnya mendukung upaya swasembada garam seperti yang dicanangkan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan. Pencanangan ini, menurut Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, adalah niatan yang sangat baik.

Namun, Bayu mengatakan masih banyak hal yang perlu dilakukan sebelum swasembada ini bisa terlaksana. Karena saat ini garam bukan hanya untuk kebutuhan konsumsi semata, tapi juga untuk industri.

"Industri saja bisa memakan 40 persen dari keseluruhan konsumsi garam di Indonesia," ucap Bayu di Jakarta, 13 Juli 2012.

Bayu manambahkan, industri seperti makanan-minuman, plastik, bahkan kertas juga ikut menjadi konsumen. Permintaan dari industri ini menurut Bayu membuat garam untuk keperluan industri ini mensyaratkan beberapa hal khusus seperti tingkat kehalusan, kadar abu, bahkan sampai kadar NaCl-nya.

Hal ini yang menurut Bayu menjadi tantangan ke depan untuk pemerintah. "Apa bisa kita menghasilkan itu dengan jumlah yang mereka butuhkan?" ujarnya.

Permasalahan pun menurut Bayu tidak hanya sampai di sana. Permasalahan harga menurutnya juga akan sangat berpengaruh. Karena jika mengimpor garam lebih murah dan lebih baik, tentu saja impor garam akan terus dilakukan.

Bayu menilai kalau mungkin yang perlu dilakukan adalah mendorong terjadinya investasi di dalam bisnis pembuatan garam. Ini yang menurut Bayu yang akan semakin mendukung program Kementrian Kelautan dan Perikanan.

"Kalau kita jika industri di dalam negeri telah mampu pasti kita dukung 100 persen niat baik tersebut," tuturnya.

Gula naik

Mengenai naiknya harga gula, Bayu meyakini bukan karena adanya penimbunan gula. Menurut dia, kenaikan harga yang mencapai Rp13 ribu per kilogram ini lebih karena mendekati Puasa dan Lebaran.

Bayu menuturkan, saat ini saja untuk konsumsi rumah tangga secara nasional sudah mencapa 2,97 juta ton per tahun. “Untuk mempengaruhi harga pasar, seorang penimbun paling tidak harus menimbun 20-30 persen dari kebutuhan,” kata Bayu.

Bila terjadi penimbunan memerlukan gudang besar yang bisa menampung gula 50-75 ribu ton. “Gudang sebesar itu tidak boleh ketahuan,” katanya. Kalau hanya menimbun 5 ton, menurut Bayu tidak akan berdampak pada harga pasar.(umi)

TERKAIT
    TERPOPULER