BISNIS

BI Ungkap Penghambat Pelaporan Devisa Hasil Ekspor

Namun, nilai devisa hasil ekspor yang diterima bank lokal meningkat.
Rabu, 9 Januari 2013
Oleh : Arinto Tri Wibowo, Nina Rahayu
Pelabuhan Peti Kemas di Tanjung Priok, Jakarta

VIVAnews - Bank Indonesia mengungkapkan dua hambatan terkait kewajiban pelaporan devisa hasil ekspor. Hambatan itu berasal dari eksportir maupun perbankan.

"Ada ketidakcocokan alamat pada data pemberitahuan ekspor barang," kata Direktur Eksekutif Departemen Statistik Moneter Bank Indonesia, Hendy Sulistyowati, di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Senin 9 Januari 2013.

Ia menjelaskan, hambatan ini membuat Bank Indonesia kesulitan untuk mengejar dan memantau berapa besar nilai devisa hasil ekspor yang wajib dilaporkan para eksportir. "Jadi, alamat pada pemberitahuan ekspor barang susah dilacak dan uang tidak masuk. Itu yang susah dikejar," ujarnya.

Sementara itu, dari sisi perbankan, ia menjelaskan, hanya ada beberapa bank besar yang mampu melayani pelaporan devisa hasil ekspor. Kondisi ini menyebabkan data yang diperoleh kurang maksimal.

"Bank sendiri masalahnya, transaksinya terlalu besar. Banyak bank yang ngutang laporan, dan ada beberapa bank yang belum memiliki sistem pelaporan yang baik," tegasnya.

Ia juga menambahkan, sepanjang 2012, beberapa sektor yang paling banyak melaporkan devisa hasil ekspor di antaranya komoditas seperti batu bara, minyak sawit mentah (CPO), dan tekstil, mekanik, serta bahan-bahan kimia.

Sekadar informasi, berdasarkan data BI, besaran devisa hasil ekspor yang diterima bank luar negeri menurun. Jika pada 2010 mencapai 22,9 persen, selama 2011 sekitar 19,6 persen. Selanjutnya pada 2012 turun menjadi 15 persen.

Sementara itu, nilai devisa hasil ekspor yang diterima bank dalam negeri mulai meningkat. Pada Februari 2012 sebesar US$9,4 miliar, Maret US$11 miliar, April mencapai US$10,3 miliar, Mei sekitar US$10,9 miliar, Juni US$10,7 miliar, dan Juli sekitar US$11,4 miliar. Pada Agustus, nilai devisa hasil ekspor dilaporkan sebesar US$11 miliar, September sekitar US$10 miliar, dan Oktober US$12 miliar.

"Jika dijumlahkan dari Januari hingga Oktober 2012 mencapai US$22,3 miliar," ungkap Hendy.

TERKAIT
TERPOPULER
File Not Found