BISNIS

Bermula dari Warung, Resto Steak Ini Raup Omzet Miliaran Rupiah

Setelah beberapa bulan beroperasi, wanita itu sudah bisa balik modal.

ddd
Rabu, 24 April 2013, 08:07 Antique, Arie Dwi Budiawati
Wynda Mardio, pemilik restoran Steak Hotel Holycow.
Wynda Mardio, pemilik restoran Steak Hotel Holycow. (VIVAnews/Arie Dwi Budiawati)
VIVAnews - Wynda Mardio, pemilik restoran Steak Hotel Holycow, berhasil meraih mimpinya karena meraup keuntungan miliaran rupiah per bulannya. Siapa yang menyangka, kalau wirausahawati ini merintis bisnisnya dari sebuah warung.

Wynda kepada VIVAnews di Restoran Steak Hotel Holycow, Jakarta, Selasa 23 April 2013, mengaku bahwa dalam satu outletnya bisa meraih omzet sebesar Rp1 miliar.

Restoran ini menyediakan menu-menu berbasis daging wagyu yang sengaja diimpor dari Australia. Wynda mengaku mengimpor daging itu untuk menjaga kualitas rasa steak tersebut. Namun, dirinya tetap menggunakan produk lokal untuk sayuran dan bumbu-bumbu lainnya.

"Kalau daging, kami memakai daging impor karena steak ini kan, makanan bule. Kalau untuk sayuran, kami menggunakan produk lokal. Misalnya untuk bayam, kami sudah bekerja sama dengan Indonesia Berkebun," kata dia.

Penganan khas Barat itu berupa sirloin steak wagyu, ribs steak wagyu, dan burger wagyu. Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp45 ribu-Rp250 ribu. Tidak hanya porsi dewasa yang dia sediakan, tetapi juga ada porsi anak-anak.

"Kami juga menyediakan kid's menu, yaitu steak yang sangat lembut dan dagingnya sudah dipotong-potong. Harganya sebesar Rp55 ribu per porsi dan ada CD Popzzle gratis," kata dia.

Pelanggannya pun bermacam-macam, mulai dari kalangan muda hingga kalangan tua dan dari kalangan pelajar hingga kalangan pekerja. "Ini kan, berkaitan dengan perut. Jadinya,semua kalangan masuk," kata dia.


Berawal dari Warung
Bisnis resto ini dia geluti sejak tahun 2010 silam. Saat itu, Wynda masih berstatus karyawan di sebuah media televisi swasta. Dalam pikirannya, ia ingin membuka restoran steak karena dia dan suaminya hobi makan makanan itu.

Padahal, wanita ini sama sekali tidak mempunyai pengalaman dalam berbisnis. Dari situlah wanita ingin membuka resto steak yang murah setelah dia keluar dari pekerjaannya. "Saya dan suami saya suka makan steak dan setiap kali makan steak, pasti harganya mahal," kata mantan produser ini.

Lalu, pada 15 Maret 2010, mereka membuka warung steak di kawasan Radio Dalam. Nama restoran Steak Hotel by Holycow ini berasal dari pemikirannya yaitu steak adalah makanan ala bintang lima dan makanan enak yang dikeluarkan di restoran adalah steak.

"Saya terinsipirasi dari film Warkop DKI. Saat itu, makanan enak yang mereka pesan dalam film itu adalah steak," seloroh dia.

Kala itu, restoran tersebut berupa warung tenda dan menumpang di salah satu ruko. Hal ini disebabkan karena keterbatasan modal.

"Waktu itu, kami membuka warung tenda dan menjual steak yang harganya di bawah Rp100 ribu. Ini karena keterbatasan modal dan keinginan kami untuk menjaga harga steak yang murah, yaitu Rp90 ribu per porsi, sedangkan di tempat lain harga itu bisa mencapai Rp300 ribu per porsi," kenang dia.

Modal awal yang dia gelontorkan untuk memulai bisnis ini sebesar Rp100 juta dan berasal dari tabungan dan "uang penghargaan" setelah dia berhenti bekerja. Jumlah karyawannya pun sebanyak lima orang, termasuk dia dan suaminya.

"Hanya lima orang, termasuk saya dan suami saya. Sisanya ada pembantu dan driver saya," katanya sambil tertawa.

Di sana tentu ada saja hal-hal yang mewarnai perjalanan resto daging ini, misalnya pemilik lahan parkir yang marah-marah karena lahan parkirnya dipakai untuk warung tersebut, para pembeli yang terpaksa bubar saat hujan, dan susunan meja yang "unik."

"Itu tempatnya miring karena tempat parkir. Jadi, piring bisa sedikit miring kalau ditaruh di meja," kata dia.

Wanita berambut panjang ini pernah membuka cabang di Singapura, tapi hanya bertahan selama sembilan bulan. Hal ini disebabkan oleh sulitnya perizinan dan tenaga kerja. Wynda lebih memilih berkonsentrasi kepada bisnisnya di Jakarta.

"Di sana kami dipersulit untuk membuka usaha. Selain itu, susah untuk mencari karyawan. Di sana karyawan kami berasal dari ibu rumah tangga dan para mahasiswa. Jadi, waktunya tidak bisa kami pegang," kata dia.

Titik Balik
Setelah beberapa bulan beroperasi, wanita itu sudah bisa balik modal. Menurut dia, restoran itu bisa menjual steak sebanyak 40 porsi dalam sehari, lalu bisa menjual steak sebesar 200-300 porsi kini. "Kalau weekend, bisa mencapai 400 porsi," kata dia.

Wynda mulai mengubah bisnisnya dari konsep warung menjadi restoran. Dia menyewa tempatnya di Radio Dalam. Prinsipnya adalah dia ingin bisnisnya tidak hanya terhenti pada konsep warung, tetapi berkembang menjadi usaha restoran dan tetap menjual steak yang murah.

Pada 2012, dia membuka dua cabang restoran, yaitu di kawasan Sabang dan kawasan Kemang. Rencananya, dia ingin membuka cabang di lokasi yang masih dirahasiakan. Tentu dengan penambahan outlet ini, jumlah karyawan juga meningkat, dari lima orang menjadi enam puluh lima orang.

"Orang lama saya, yaitu driver saya, sekarang menjadi manajer operasional," kata dia.

Apabila tertarik untuk mencicipi steak ini, Anda bisa mengunjungi restoran ini di Jalan Radio Dalam No. 15, Jalan Kemang Raya No. 95, Jakarta Selatan, atau di Seremanis Building Jalan KH. Agus Salim No. 16, Jakarta Pusat.




© VIVA.co.id
Share :  
Rating
KOMENTAR
audiotherapy
24/04/2013
WAH INSPIRATIF BGT....
Balas   • Laporkan
nirwana15
24/04/2013
Mantab jangan lupa kasih gaji diatas umr ya! tur jangan pake gas subsidi
Balas   • Laporkan


KIRIM KOMENTAR

Anda harus login untuk mengirimkan komentar

 atau 
  
MOMENTUM
  • Info Momentum
Info Pemasangan Momentum:
Telepon: 021-5610-1555 / Sales
Email: salesteam@vivanews.com