BISNIS

Taiwan vs Filipina: Adu Kuat Politik Satu China

Takut RRC marah, Filipina hanya mengutus perwakilan non diplomatik.
Kamis, 16 Mei 2013
Oleh : Renne R.A Kawilarang
Latihan gabungan militer Taiwan

VIVAnews - Laut China Selatan kembali memunculkan konflik panas. Setelah China versus Filipina dan China berseteru dengan Vietnam, perairan luas ini membuka konflik antara Taiwan dengan Filipina.

Konflik kali ini menyangkut kesalahpahaman yang berbuah fatal. Kapal patroli Filipina pada 9 Mei lalu mencegat dan menembak kapal penangkap ikan asal Taiwan di Selat Bashi, salah satu nama perairan di Laut China Selatan yang membatasi kawasan maritim sebelah utara Filipina dan selatan Taiwan.

Seorang nelayan Taiwan yang sudah berusia 65 tahun, Hung Shih-cheng, tewas bersimbah darah. Patroli Filipina mengklaim kapal penangkap ikan itu melanggar batas wilayah mereka. Namun, Taiwan menyatakan bahwa kapal nelayan itu masih beroperasi di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) mereka, yang berada dalam radius 200 mil laut dari pulau terjauh.

Yang membuat Taiwan marah besar adalah pertanyaan ini: kenapa aparat Filipina harus memuntahkan peluru kepada kapal penangkap ikan yang tidak bersenjata dan tidak mengancam mereka?

"Saya harap mereka [Filipina] paham bahwa mereka harus bertanggung jawab pada masyarakat internasional. Menembaki orang yang tidak bersenjata dan tidak bersalah di laut terbuka bukanlah perbuatan yang ditolerir negara-negara beradab," kata Presiden Ma Ying-jeou, pedas, Kamis 16 Mei 2013, seperti dikutip stasiun berita Channel News Asia.

Pemerintah Filipina pun menyatakan menyesal dan meminta maaf atas insiden yang tidak perlu terjadi itu. Namun, Taiwan sudah kadung marah dan menolak permintaan maaf dari Manila. Alasannya, karena nada pernyataan itu dan cara mengutarakannya masih "kurang pantas".  

Di sini Filipina menghadapi situasi dilematis. Sebagai negara yang turut menganut "Kebijakan Satu China," Filipina tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan, yang dianggap China Daratan sebagai "provinsi yang memberontak". 

Sama seperti kebanyakan negara yang menganut Kebijakan Satu China, pemerintah Filipina tidak mau membuat marah Republik Rakyat China bila sampai berhubungan langsung dengan pejabat tinggi Taiwan. Maka, derajat hubungan Filipina dan Taiwan hingga kini hanya sebatas saling menempatkan Kepala Kantor Ekonomi dan Kebudayaan, yang merupakan perwakilan tidak resmi dan non diplomatik.     

Namun, dengan insiden penembakan ini, Taiwan menuntut Filipina harus menyampaikan permintaan maaf secara resmi. Sulit menyampaikannya secara langsung, Presiden Benigno Aquino III lantas mengutus Amadeo R. Perez untuk meminta maaf kepada Pemerintah Taiwan.

Perez adalah Kepala Kantor Ekonomi dan Kebudayaan Manila di Taipei. "Saya datang ke sini untuk menyampaikan penyesalan yang mendalam dan permintaan maaf atas kemalangan dan peristiwa yang tidak disengaja yang telah menghilangkan nyawa warga Taiwan itu," kata Perez setiba di Taipei, Rabu kemarin.   

Namun, pemerintah Taiwan tidak puas. Bahkan, Taipei tersinggung permintaan maaf itu tidak disampaikan secara resmi oleh pejabat tinggi Filipina, dan hanya mengirim utusan yang dipandang hanyalah seorang perwakilan non diplomatik.

"Perez tidak punya cukup wewenang dan ini menunjukkan kurangnya ketulusan Filipina dalam menyelesaikan insiden itu," kata Perdana Menteri Taiwan, Jiang Yi-huah, kepada para wartawan seperti dikutip stasiun berita BBC

Selain itu, Jiang menyatakan materi permintaan maaf dari Filipina itu masih kurang pantas, karena menyebut kematian nelayannya itu merupakan peristiwa yang kurang beruntung dan tidak disengaja.

"Kami sama sekali tidak mau menerima permintaan maaf seperti itu," kata Jiang, sebagaimana dimuat di laman resmi pemerintah Taiwan. Taipei sebelumnya juga menolak permintaan maaf dari Antonio Basilio, perwakilan tidak resmi Filipina di Taiwan.

Rakyat Taiwan marah

Dalam suatu demonstrasi di depan Kantor Ekonomi dan Kebudayaan Manila di Taipei, seperti yang dipotret juru foto Reuters, para demonstran mengungkapkan kemarahan dengan membakar replika bendera Filipina. Ada pula yang membawa foto besar wajah Presiden Aquino III dengan penutup satu mata dan dua buah pedang bersilang di bawah foto, mirip bajak laut.

Para demonstran di Taiwan bakar bendera Filipina

Para demonstran di Taiwan membakar bendera Filipina, 13 Mei 2013 (REUTERS/Pichi Chuang)

Tak cuma marah, pemerintah Taiwan merespons dengan sejumlah kebijakan pembalasan. PM Jiang Rabu kemarin mengumumkan sedikitnya ada tiga kebijakan untuk membalas Filipina.

Pertama, segera menghentikan proses penerimaan pekerja asal Filipina di Taiwan, memanggil pulang perwakilannya dari Manila, serta meminta utusan dari Filipina agar kembali ke negaranya selama masalah ini belum selesai.

Jiang bahkan mengatakan bila Manila belum juga memenuhi tuntutan permintaan resmi dari Taipei hingga Rabu pukul enam sore waktu setempat, Taiwan akan mengenakan sanksi tambahan.

Sanksi itu adalah menerbitkan imbauan kepada warga Taiwan untuk tidak berkunjung ke Filipina (travel warning) dan menghentikan program saling kunjung pejabat Filipina dan Taiwan.

Kedua negara memang tidak punya hubungan diplomatik, namun selama ini masing-masing menempatkan perwakilan untuk menjalankan hubungan ekonomi dan dagang. Selain itu Taiwan mengancam menggelar latihan perang di perairan dekat perbatasan Filipina, yang juga merupakan lokasi penembakan nelayan.

Latihan militer

Tak hanya itu, Taiwan bahkan menggertak dengan menggelar latihan militer, yang dimulai Rabu kemarin. Latihan itu berlangsung selama dua hari.

Pejabat Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan latihan itu mengambil lokasi di Selat Bashi. Itu merupakan perairan yang membatasi wilayah maritim Taiwan dan Filipina. Latihan itu melibatkan jet-jet tempur Mirage 2000, satu kapal destroyer, dua kapal fregat, dan dua kapal patroli.

Hingga Rabu malam, Filipina tidak bersedia mengomentari latihan militer Taiwan yang berada di dekat perbatasan. Namun, Manila minta kepada Taipei agar, kendati sedang marah atas kematian nelayannya, tetap menjamin keselamatan puluhan ribu warga mereka yang tinggal dan bekerja di Taiwan.

Juru bicara kepresidenan Filipina, Edwin Lacierda, kepada pers mengungkapkan bahwa permintaan itu secara resmi telah disampaikan pemerintahnya kepada Taiwan. "Kami mengerti atas kesedihan keluarga almarhum dan rakyat Taiwan atas kemalangan ini dan kami berempati dengan mereka," kata Lacierda, seperti dikutip kantor berita Reuters.

Dia pun meminta warga Taiwan agar tetap tenang dan tidak melampiaskan kemarahan mereka pada warga Filipina yang banyak menjadi pekerja di sana. Lebih dari 85 ribu warga Filipina tengah bekerja di Taiwan, kebanyakan sebagai pembantu rumah tangga.

"Jangan libatkan para warga Filipina di sana. Mereka sedang bekerja untuk dapat hidup layak," kata Lacierda. Dia juga mengungkapkan bahwa Presiden Benigno Aquino telah memerintahkan investigasi menyeluruh dan imparsial atas insiden penembakan nelayan Taiwan itu. (k)

TERKAIT
TERPOPULER